Jurnal1jambi.com,- Di tengah arus modernitas yang kerap menggerus akar budaya, Penilaian Kelompok Belajar Adat Melayu Jambi Tingkat Provinsi Jambi Tahun 2026 justru menghadirkan pesan sebaliknya: adat belum selesai dibicarakan. Kegiatan yang berlangsung pada 23/05/2026 di Sekretariat Pseko Melayu Jambi, Desa Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi itu dihadiri Tim Penilai Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, tokoh adat, kepala desa, hingga masyarakat lintas generasi.
Prosesi adat “Kato Bejawab” yang menyambut rombongan tamu sejak pagi menjadi penanda bahwa budaya Melayu tidak sekadar dipertontonkan, melainkan masih hidup di tengah masyarakat. Suasana semakin khidmat ketika “Puji Perago Naik Sirih” dikumandangkan sebagai kepala baso pembuka adat, menghadirkan nuansa sakral yang jarang ditemukan di ruang-ruang seremonial modern hari ini.
Pembina Komunitas Adat Pseko Melayu Jambi, Ferry Firdaus, menegaskan bahwa kelompok belajar adat bukan hanya ruang pelestarian tradisi, tetapi juga benteng moral generasi muda Melayu. “Adat jangan lapuk dek hujan, jangan lekang dek paneh. Kami ingin anak kemenakan tetap tegak memegang adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah,” ujarnya, menegaskan bahwa budaya tidak boleh kalah oleh zaman yang bergerak terlalu cepat.

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, kehadiran Pseko Melayu Jambi menjadi ruang temu antara warisan leluhur dan kebutuhan masa depan. Dengan melibatkan sekitar 68 anggota aktif dari berbagai desa seperti Mendalo Indah, Mendalo Darat, Pematang Gajah, hingga Sungai Duren, komunitas ini perlahan membangun kesadaran bahwa identitas budaya tidak lahir dari seremoni semata, melainkan dari kebiasaan yang terus dirawat bersama.
Ketua Yayasan Pseko Melayu Jambi, Andri Darmansyah, S.Pt., menyebut penilaian tersebut bukan sekadar agenda lomba administratif, melainkan refleksi komitmen masyarakat menjaga marwah budaya Melayu Jambi. Dukungan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi di bawah pembinaan Bupati Bambang Bayu Suseno, S.P., M.M., M.Si., dinilai menjadi energi penting agar pelestarian adat tidak berhenti sebagai simbol, tetapi tumbuh menjadi gerakan kebudayaan yang nyata dan berkelanjutan.
Pantun lama yang kembali dikumandangkan dalam kegiatan itu seolah menjadi pengingat paling jujur bagi zaman hari ini “Lusuh-lusuh kito perbaharu, adat lamo jangan ditinggal.” Sebab ketika generasi muda mulai asing dengan akar budayanya sendiri, yang hilang bukan hanya tradisi, melainkan juga arah pulang sebuah peradaban.











