Jurnal1jambi.com,- Bank Jambi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi memperkuat komitmen menghadirkan layanan keuangan yang inklusif melalui kegiatan Edukasi dan Inklusi Keuangan bagi masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) di Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, pada 18/06/2026. Program bertajuk “Lentera Inklusi di Balik Rimba: Membangun Kemandirian Finansial Suku Anak Dalam” itu menjadi langkah nyata membuka akses pengetahuan dan layanan keuangan bagi kelompok masyarakat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala OJK Provinsi Jambi Yan Iswara Rosya, Wakil Bupati Merangin H. Abdul Khafidh, Direktur Treasury, Dana, IT dan Digital Bank Jambi Achmad Nunung HS, jajaran OPD Kabupaten Merangin, Ketua Tumenggung, serta masyarakat, perempuan, dan pelajar Suku Anak Dalam. Kehadiran para pemangku kepentingan mencerminkan bahwa pemerataan akses keuangan tidak dapat diwujudkan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan.
Kepala OJK Provinsi Jambi Yan Iswara Rosya mengatakan, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada pada angka 80,51 persen. “Masih terdapat kesenjangan sebesar 14,02 persen yang harus dijembatani melalui edukasi yang berkelanjutan. Pemahaman keuangan yang baik akan membantu masyarakat mengambil keputusan secara bijak, mengelola pendapatan, sekaligus melindungi diri dari berbagai risiko keuangan,” ujarnya.
Direktur Treasury, Dana, IT dan Digital Bank Jambi Achmad Nunung HS menegaskan Bank Jambi mendukung penuh upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan hingga menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. Menurutnya, pemahaman mengenai manfaat menabung, pengelolaan keuangan, serta pemanfaatan layanan perbankan formal merupakan fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh edukasi mengenai pengelolaan keuangan, produk dan layanan perbankan, pentingnya budaya menabung, serta kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan dan kejahatan keuangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas akses terhadap layanan keuangan yang aman, mudah dijangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok yang selama ini belum sepenuhnya terlayani.
Di balik rimbanya hutan Merangin, secercah harapan tentang kemandirian ekonomi mulai dinyalakan. Ketika literasi keuangan menjangkau setiap lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang, pembangunan tidak lagi sekadar berbicara tentang angka pertumbuhan, melainkan tentang menghadirkan kesempatan yang setara agar setiap warga memiliki ruang untuk tumbuh, berdaya, dan menatap masa depan dengan optimisme.













