Jurnal1jambi.com,- Pesan dan kisah dari balik jeruji Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Jambi dihadirkan ke ruang pertunjukan melalui monolog Teater Kuju Universitas Jambi di Terra Alamia Cafe, Minggu 23/08/2026. Pertunjukan tersebut diangkat dari buku Rinai dari Dalam yang disusun oleh Malam Puisi Jambi dan memuat tulisan serta pesan dari para warga binaan.

Melalui seni peran, para pemain Teater Kuju Universitas Jambi menerjemahkan pengalaman, kegelisahan, harapan, dan kerinduan yang tertuang dalam buku tersebut ke dalam sebuah pertunjukan monolog. Cerita yang sebelumnya hadir melalui tulisan kemudian memperoleh bentuk baru melalui ekspresi, dialog, gerak, dan penghayatan aktor di atas panggung.

Rinai dari Dalam menjadi ruang bagi suara warga binaan untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Pesan yang terkandung di dalamnya tidak hanya berbicara mengenai kehidupan di balik tembok lapas, tetapi juga tentang penyesalan, keluarga, harapan untuk berubah, kesempatan kedua, serta keinginan untuk kembali diterima di tengah masyarakat.

Bagi Teater Kuju, membawa kisah tersebut ke atas panggung bukan sekadar menerjemahkan sebuah karya tulis menjadi pertunjukan. Monolog itu menjadi medium untuk menghadirkan sisi kemanusiaan dari pengalaman warga binaan melalui pendekatan artistik yang memberi ruang bagi penonton untuk mendengar dan merasakan pesan yang disampaikan.

Pertunjukan tersebut sekaligus mengajak penonton melihat warga binaan secara lebih utuh, tanpa menghapus kesalahan yang pernah dilakukan. Di balik status sebagai orang yang menjalani masa pidana, tetap terdapat manusia dengan perasaan, keluarga, penyesalan, serta keinginan untuk memperbaiki kehidupan setelah menjalani proses pembinaan.

Melalui panggung monolog, pesan dari Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi menemukan ruang baru untuk berkomunikasi dengan publik. Tulisan yang lahir dari balik jeruji berubah menjadi ekspresi seni yang memungkinkan pengalaman personal para warga binaan dipahami melalui perspektif yang lebih manusiawi.

Dari lembaran buku menuju panggung pertunjukan, Rinai dari Dalam memperlihatkan bahwa suara manusia tidak selalu terhenti oleh tembok. Kisah-kisah tersebut mengingatkan bahwa proses pembinaan bukan hanya tentang menjalani hukuman, tetapi juga tentang membuka ruang bagi perubahan, kesempatan kedua, dan harapan untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat. (Noval)

share this :