Jurnal1jambi.com,- Kisah hidup Donny Andretti menjadi potret tentang daya tahan manusia yang jarang disorot secara utuh. Di hadapan rekan wartawan, Minggu (15/2/2026), Adv. Donny Andretti — yang kini dikenal sebagai Ketua Umum FERADI WPI — membuka lembaran masa lalunya: fase kelam ketika ia didiagnosis mengalami depresi berat, sebuah kondisi yang membuatnya nyaris kehilangan kendali atas hidup, pekerjaan, bahkan harapan.

Istilah “A Broken Vessel” bukan sekadar metafora puitik, melainkan refleksi pengalaman personal. Donny menceritakan masa di mana ketakutan, kepanikan, dan insomnia berkepanjangan mengunci aktivitasnya. Selama berbulan-bulan, hidupnya bergantung pada obat penenang agar dapat tidur walau singkat. Dunia profesional yang sebelumnya ia jalani sebagai advokat praktis terhenti. Tekanan ekonomi datang berlapis, sementara dukungan sosial yang diharapkan justru tak selalu hadir.

Namun titik balik itu datang tanpa seremoni. Donny mengaku perlahan pulih, hingga akhirnya menghentikan konsumsi obat-obatan medis. Dari fase pemulihan tersebut, ia mulai kembali menata hidup dan profesinya. Media sosial menjadi salah satu ruang baru yang mengubah arah perjalanan hidupnya. Melalui konten edukasi hukum, ia membangun jejaring, membuka ruang diskusi, dan merintis pelatihan rutin yang kemudian berkembang menjadi wadah organisasi formal.

Dalam kurun waktu relatif singkat, berbagai organisasi dan entitas lahir, antara lain FERADI WPI, FERADI MEDIATORE, KAWAN JARI, PMBI, firma hukum SUBUR JAYA & REKAN, hingga PT Kawan Jari Grup. Total anggota yang disebut telah menembus lebih dari 1.800 orang di seluruh Indonesia. Aktivitasnya mencakup pelatihan hukum, pendidikan non-akademik, program sertifikasi profesi, bantuan hukum, hingga kegiatan sosial. Donny menegaskan bahwa seluruh pencapaian tersebut ia maknai bukan semata hasil kecakapan pribadi, melainkan proses panjang yang sarat ujian hidup.

Di tengah pernyataannya, Donny beberapa kali menahan emosi. Ia menggambarkan pemulihan dirinya sebagai perjalanan spiritual sekaligus eksistensial. Baginya, kehancuran bukan akhir, melainkan bahan mentah pembentukan ulang. Ia mengutip refleksi religius tentang bejana tanah liat — gambaran yang menurutnya relevan dengan dinamika hidup yang rapuh, namun dapat dibentuk kembali menjadi sesuatu yang bernilai.

Menutup perbincangan, Donny menyampaikan pesan yang sederhana namun reflektif: pentingnya menjaga sikap hati, menghormati orang tua, berbagi kepada sesama, serta mencintai bangsa. Ia juga mengungkapkan sejumlah gagasan sosial yang ia harapkan dapat terwujud melalui organisasi yang dipimpinnya, mulai dari dapur umum, beasiswa pendidikan, hingga layanan kesehatan. Sebuah pandangan yang, terlepas dari interpretasi publik, memperlihatkan bagaimana pengalaman krisis dapat melahirkan orientasi baru dalam memaknai keberhasilan dan kontribusi sosial.

Redaksi.

share this :