Jurnal1jambi.com,- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Jambi terus mengoptimalkan program pembinaan kepribadian melalui kegiatan pembinaan kerohanian bagi warga binaan beragama Kristen. Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin ini menjadi bagian dari upaya membangun kualitas spiritual, mental, dan karakter warga binaan selama menjalani masa pidana.
Pembinaan kerohanian tersebut diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari ibadah bersama, pujian dan penyembahan, pembacaan serta penyampaian firman Tuhan, doa bersama, hingga pembinaan rohani yang dipandu oleh pembina maupun pelayan gereja. Seluruh proses berlangsung dalam suasana yang tertib, khidmat, serta diikuti dengan antusias oleh warga binaan yang beragama Kristen.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi, Meita Eriza, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pemasyarakatan. “Melalui kegiatan pembinaan kerohanian ini, kami berharap warga binaan semakin memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri, membangun sikap hidup yang lebih baik, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan spiritual bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi menjadi ruang refleksi yang mampu menumbuhkan nilai-nilai kasih, kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Program pembinaan kerohanian yang dilaksanakan secara berkelanjutan juga menjadi wujud komitmen Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi dalam memenuhi hak warga binaan untuk memperoleh pembinaan sesuai keyakinan agama masing-masing. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang humanis sekaligus mendukung proses pembinaan secara menyeluruh.
Melalui penguatan nilai-nilai spiritual, Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi menegaskan bahwa proses pemasyarakatan bukan semata menjalankan hukuman, melainkan membuka ruang bagi perubahan. Sebab keberhasilan pembinaan pada akhirnya diukur dari lahirnya pribadi-pribadi yang lebih baik, siap kembali menjadi bagian yang produktif, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.













