Oleh : Cucu Karnelis, Universitas Nusaputra
Jurnal1jambi.com,- Fenomena credentialism atau pemujaan berlebihan terhadap ijazah akademik dinilai menjadi salah satu penghambat serius inovasi di dunia kerja Indonesia. Pandangan ini disampaikan akademisi Universitas Nusaputra, Cucu Karnelis, dalam kajian yang dipublikasikan pada 10/03/2026, yang menyoroti bagaimana pasar tenaga kerja masih menjadikan gelar sebagai syarat utama, bahkan di atas kemampuan nyata seseorang.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa dunia kerja Indonesia tengah menghadapi paradoks antara kompetensi dan formalitas. Banyak perusahaan menyaring kandidat hanya berdasarkan gelar akademik, sementara keterampilan praktis dan pengalaman sering kali ditempatkan di urutan kedua. Akibatnya, sistem rekrutmen dinilai cenderung mengabaikan talenta berbakat yang tidak memiliki akses pendidikan formal.
Cucu Karnelis menilai pola pikir semacam ini berisiko menciptakan ilusi meritokrasi yang menyesatkan. “Fenomena ini membuat ijazah diperlakukan seolah artefak suci keberhasilan, padahal kemampuan memecahkan masalah nyata tidak selalu lahir dari jalur akademik formal,” tulisnya dalam kajian tersebut.
Pandangan itu memantik perhatian di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun. Di satu sisi, pasar kerja dibanjiri sarjana yang secara administratif memenuhi syarat, namun di sisi lain banyak praktisi autodidak yang justru memiliki kemampuan teknis tinggi tetapi tersisih karena tidak memiliki gelar.
Situasi ini dinilai menciptakan ketimpangan baru dalam dunia ketenagakerjaan. Talenta dari kelompok ekonomi menengah ke bawah yang tidak mampu menempuh pendidikan tinggi kerap dianggap tidak kompeten sejak awal, meskipun mereka memiliki kapasitas dan pengalaman yang tidak kalah kuat.
Secara lebih luas, kajian tersebut mengingatkan bahwa obsesi terhadap ijazah dapat memperlambat laju inovasi nasional. Ketika perusahaan lebih menghargai kepatuhan administratif daripada keberanian berpikir berbeda, ruang bagi kreativitas radikal menjadi semakin sempit.
Sebagai alternatif, penulis mendorong perubahan paradigma menuju sistem penilaian berbasis portofolio dan kompetensi nyata. Perusahaan didorong untuk menilai kandidat melalui demonstrasi kemampuan, proyek nyata, dan pemecahan masalah, bukan sekadar dokumen akademik.
Di tengah perubahan ekonomi global yang menuntut kreativitas dan pemikiran nonlinier, pesan dari kajian ini terdengar sederhana namun menggugah. Sudah saatnya dunia kerja berhenti bertanya “apa gelarmu”, dan mulai bertanya “apa yang bisa kamu ciptakan”. Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh tebalnya map ijazah, melainkan oleh keberanian memerdekakan potensi manusia.










