Jurnal1jambi.com,— Di balik tembok tinggi dan pintu besi Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Jambi, peringatan Hari Ibu ke-97 menjadi pengingat penting bahwa kemanusiaan tidak pernah boleh dikurung. Lomba fashion show yang digelar Sabtu (3/1/2025) bukan sekadar acara seremonial, melainkan simbol keberanian negara untuk melihat perempuan termasuk warga binaan sebagai manusia utuh yang memiliki harga diri, potensi, dan hak untuk tumbuh.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembinaan di lapas seharusnya tidak melulu bicara soal hukuman, tetapi juga pemulihan. Ketika warga binaan dan petugas tampil bersama di satu panggung, mengenakan kebaya dan busana nasional, ada pesan kuat yang disampaikan: relasi kuasa bisa dilunakkan oleh empati, dan disiplin bisa berjalan beriringan dengan rasa saling menghargai.

Busana yang dikenakan para peserta bukan sekadar kain dan motif. Ia adalah representasi identitas perempuan Indonesia yang tangguh—perempuan yang mungkin pernah jatuh, tetapi tidak kehilangan martabatnya. Kepercayaan diri yang terpancar dari langkah para peserta menjadi bukti bahwa ruang ekspresi adalah kebutuhan mendasar, bahkan di tempat yang paling sering kita asosiasikan dengan keterbatasan.

Kehadiran juri eksternal dan para tokoh perempuan daerah memperkuat makna acara ini. Negara, masyarakat sipil, dan komunitas perempuan hadir bersama untuk mengatakan satu hal: proses pembinaan tidak boleh eksklusif. Ia harus terbuka terhadap kolaborasi, karena reintegrasi sosial tidak mungkin berhasil tanpa dukungan lingkungan di luar tembok lapas.

Pernyataan Kepala Lapas Perempuan Jambi, Meita Eriza, menegaskan arah pembinaan yang patut diapresiasi. Ketika lapas memberi ruang untuk kreativitas, disiplin yang dibangun bukan lagi karena takut, melainkan karena kesadaran. Inilah esensi pembinaan kepribadian yang sering kita gaungkan, tetapi jarang benar-benar kita wujudkan.

Hari Ibu ke-97 di Lapas Perempuan Jambi mengajarkan kita satu pelajaran penting: kemanusiaan tidak mengenal status hukum. Setiap perempuan, apa pun masa lalunya, berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan tugas kita bersama adalah memastikan bahwa harapan itu tidak berhenti di atas panggung fashion show, tetapi berlanjut hingga mereka kembali berdiri dengan utuh di tengah masyarakat.

share this :