Jurnal1jambi.com,— Bandung — Larangan pembelian seragam sekolah, buku, dan alat tulis yang diberlakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat rupanya belum sepenuhnya dipatuhi. Padahal, Gubernur Jawa Barat telah menegaskan bahwa SMA, SMK, dan SLB negeri di seluruh wilayah provinsi tidak diperkenankan melakukan praktik tersebut. Aturan ini tertuang jelas dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Nomor 16739/PW.03/SEKRE/2025.
Namun temuan di lapangan menunjukkan realita berbeda. Sejumlah sekolah didapati masih menjual seragam secara terselubung. Modusnya melalui pengumuman di grup orang tua siswa yang “mengimbau” untuk memesan seragam di pihak tertentu. Meski tidak dinyatakan wajib, pola ini tetap menimbulkan tekanan psikologis, terutama bagi orang tua yang tidak mampu dan khawatir anaknya berbeda dari siswa lain.
Situasi ini mendapat sorotan dari pemerhati pendidikan sekaligus Ketua Umum SIMPE Nasional, Edi Sutiyo. Ia menilai kebijakan Pemprov Jabar sebenarnya sudah sangat tegas. Dalam surat edaran tersebut terdapat tujuh poin larangan, mulai dari pelarangan menjual seragam hingga ancaman sanksi apabila ditemukan pelanggaran. Menurutnya, aturan itu seharusnya cukup kuat menjadi pedoman sekolah agar tidak lagi bermain-main dalam urusan pengadaan seragam.
Edi juga menyoroti bahwa praktik penjualan seragam sebenarnya bukan hal baru. Harga seragam yang disediakan pihak sekolah bahkan kerap jauh di atas harga pasaran. Namun ia memahami adanya dilema, terutama terkait seragam khas seperti olahraga, batik, atau identitas sekolah lainnya. Untuk itu ia mengusulkan penghapusan seragam identitas dan mempertahankan seragam nasional seperti putih–abu yang dapat dibeli bebas di pasaran agar tidak membebani orang tua.
Ia menilai kondisi ini sebagai bentuk “pembangkangan” tersembunyi—sebuah langkah yang dilakukan sebagian sekolah demi mempertahankan kepentingan tertentu, meski bertentangan dengan kebijakan resmi. Menurutnya, selama aturan masih setengah hati dan tidak diikuti pengawasan ketat, praktik seperti ini akan terus terjadi dan pada akhirnya merugikan siswa serta orang tua.












