Jurnal1jambi.com,— MUARO JAMBI – Di sebuah rumah sederhana di RT 02, Desa Suka Maju, Kecamatan Mestong, hidup seorang ibu yang kini hanya bisa terbaring lemah. Namanya Sak’iyah, 35 tahun, ibu dari tiga anak yang sejak dua tahun terakhir harus menanggung derita penyakit mematikan.
Semua bermula pada 2022, ketika dokter memutuskan harus mengamputasi kaki kirinya akibat tumor ganas. Harapan untuk pulih tak pernah pudar, meski untuk sekadar berjalan ia harus bergantung pada sepasang tongkat. Namun takdir berkata lain. Setahun terakhir, Sak’iyah kembali mendapat ujian: divonis mengidap tumor paru-paru dan hati.
Kini, tubuh ringkihnya tak lagi mampu menopang. Sudah tiga bulan ia bolak-balik rumah sakit. Namun karena keterbatasan biaya, pengobatan pun tersendat. Suaminya, Darwin, 41 tahun, hanya bisa menatap pasrah. Setiap hari, ayah tiga anak ini berjuang sebagai buruh serabutan. Penghasilannya? Jauh dari cukup.
“Sudah tiga bulan ini kami mondar-mandir ke rumah sakit. Tapi sekarang, kami hanya bisa pasrah, Pak. Sakitnya sudah satu tahun,” kata Darwin, suara lirihnya menggambarkan kepedihan yang tak bisa ia sembunyikan.
Di tengah kondisi sulit itu, Darwin tetap setia mendampingi sang istri. Ia menjadi perawat, penguat, sekaligus pencari nafkah tunggal. Namun, beban yang ia tanggung kian berat. Biaya operasional untuk berobat ke rumah sakit terus menghantui. Sementara dapur keluarga pun harus tetap mengepul.
Darwin kini hanya punya satu harapan: uluran tangan para dermawan. “Kalau ada yang mau membantu, kami sangat berterima kasih. Hanya itu yang bisa kami harapkan sekarang,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Sebuah permintaan sederhana, yang mungkin jadi satu-satunya jalan agar Sak’iyah bisa kembali merasakan hidup tanpa rasa sakit. (Noval)











