Jurnal1Jambi.com,- Merangin, 28/7/2025 – Musim kemarau datang. Seperti biasa, isu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali muncul. Tapi mari jujur: ini bukan bencana alam, ini akibat perilaku manusia yang menganggap membakar lahan adalah cara termudah. Masalahnya, cara mudah ini mengorbankan banyak hal: udara bersih, kesehatan anak-anak, dan kelestarian lingkungan.
Hari ini, Babinsa Koramil 420-06/Muara Siau, Serda Edi Soni, turun ke Desa Durian Mukut. Tidak untuk memarahi, tapi untuk memberi tahu fakta yang seharusnya sudah kita pahami: membakar lahan adalah tindakan berisiko, dan ada konsekuensinya. “Kami mengajak seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena selain membahayakan lingkungan dan kesehatan, juga bisa dikenakan sanksi hukum,” tegasnya.
Bukan sekadar bicara, Serda Edi membawa selebaran berisi panduan pencegahan Karhutla dan cara melapor jika melihat titik api. Ia berpatroli ke titik-titik rawan. Karena masalah Karhutla bukan soal “kalau terjadi”, tapi soal “kapan terjadi” kalau kita terus abai.
Respons warga? Positif. Banyak yang mengaku baru sadar dampak jangka panjang dari kebiasaan ini. “Sekarang kami tahu bahwa membakar lahan bisa merugikan semua pihak,” kata salah satu warga. Ini penting. Karena perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil.
Kita harus paham, Karhutla itu masalah serius. Asap bukan cuma mengganggu jarak pandang, tapi mematikan ekonomi, merusak kesehatan, dan mempermalukan kita di mata dunia. Satu batang korek api yang dinyalakan sembarangan bisa memicu tragedi nasional.
Jadi apa solusinya? Mudah: hentikan membakar lahan. Pilih cara yang legal, aman, dan ramah lingkungan. Karena kalau kita terus memilih cara mudah, jangan salahkan kalau musim kemarau berikutnya kita sesak napas lagi. Karhutla bukan takdir, ini pilihan. Dan kita yang menentukan.












