Jurnal1jambi.com,- Pemerintah Provinsi Jambi memperkuat barisan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan menunjuk Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin sebagai Pelaksana Harian (Plh) Komandan Satuan Tugas Siaga Darurat Bencana Karhutla Provinsi Jambi Tahun 2026. Penunjukan tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Jambi Al Haris saat memimpin Apel Siaga Darurat Bencana Karhutla di Lapangan Upacara Korem 042/Gapu, Kota Jambi, pada 10/6/2026.

Langkah itu menjadi sinyal bahwa ancaman Karhutla tidak boleh dipandang sebagai persoalan musiman semata. Di tengah prediksi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan, pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, hingga pelaku usaha didorong bergerak dalam satu komando dan satu irama pencegahan.

Dalam amanatnya, Gubernur Al Haris menegaskan kepercayaan penuh kepada Brigjen TNI Nyamin untuk membantu memimpin pelaksanaan operasi penanggulangan Karhutla di Provinsi Jambi. “Saya yakin dan percaya saudara dapat menjalankan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab,” tegasnya di hadapan ratusan peserta apel yang berasal dari berbagai instansi dan unsur masyarakat.

Penunjukan tersebut mendapat perhatian luas karena Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut kesehatan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat. Pengalaman pahit pada 2015 dan 2019 menjadi pengingat bahwa kabut asap dapat melumpuhkan aktivitas warga, mengganggu pendidikan, hingga meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menanggapi amanah yang diberikan, Brigjen TNI Nyamin menyatakan kesiapan seluruh unsur Satgas untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan pencegahan Karhutla tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja, melainkan membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat sebagai garda terdepan pengawasan di lapangan.

Apel Siaga Darurat Bencana Karhutla Tahun 2026 menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia adalah pengingat bahwa bencana tidak menunggu kesiapan, sementara kelalaian sering kali datang dari rasa aman yang berlebihan. Di titik inilah komitmen, kepemimpinan, dan kolaborasi diuji sebelum api sempat membesar dan sebelum asap kembali mengambil ruang hidup masyarakat.

share this :