Jurnal1Jambi.com,- Di perbatasan negeri, perang tak selalu melawan peluru. Ada musuh yang lebih sunyi, tak kasat mata, namun mematikan: malaria. Di Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Satgas Yonif 144/Jaya Yudha bersama Puskesmas turun tangan, melaksanakan penyemprotan Indoor Residual Spraying (IRS) di Kampung Naga, Minggu (27/07/2025). Ini bukan sekadar aksi, ini ikhtiar menyelamatkan nyawa.

Dipimpin Bakes Pos Kout, Serda Kustantowi Santosa, tim gabungan bergerak dari rumah ke rumah, menyemprotkan insektisida ke dinding yang sering jadi singgasana nyamuk. Targetnya jelas: menekan angka penyebaran penyakit mematikan seperti malaria dan demam berdarah. Karena di tanah dengan akses kesehatan terbatas, pencegahan adalah senjata paling ampuh.

Kegiatan dimulai dengan edukasi sederhana: menjelaskan manfaat dan prosedur penyemprotan kepada warga. Bukan hanya menyemprot dinding, tapi juga membangun kesadaran. Bahwa melawan malaria bukan hanya tugas petugas medis, tapi gotong royong bersama. Ini adalah strategi kesehatan yang berpijak pada kolaborasi, bukan sekadar intervensi.

Komandan Satgas Yonif 144/JY, Letkol Inf Eko Siswanto, S.Hub.Int, menegaskan bahwa misi mereka tak sebatas menjaga perbatasan. “Kami berkomitmen untuk tidak hanya menjaga keamanan wilayah, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kegiatan ini wujud nyata sinergi antara TNI dan instansi kesehatan,” ujarnya. Sebuah pesan tegas: keamanan tak berarti tanpa kesehatan.

Di tengah minimnya fasilitas kesehatan, warga Kampung Naga menyambut hangat langkah ini. “Kami merasa diperhatikan. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan untuk kesehatan kami semua,” ungkap Paulus, seorang warga. Sebuah kalimat sederhana yang menyiratkan harapan besar: agar perhatian tak berhenti di satu kali aksi.

Di negeri yang masih bergulat dengan ketimpangan akses layanan kesehatan, langkah kecil ini punya arti besar. Namun, mari jujur: melawan malaria tak cukup dengan penyemprotan sesaat. Dibutuhkan kebijakan berkelanjutan, pendidikan kesehatan, dan distribusi sumber daya yang adil. Sebab, di balik dinding yang disemprot hari ini, ada cita-cita agar anak-anak Papua tumbuh tanpa takut gigitan nyamuk.

share this :