Jurnal1jambi.com,- Muaro Jambi, 28/8/2025 — Nama Irfan Saputra mungkin belum sering terdengar di layar televisi. Tapi dari Desa Sebapo, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, ia sedang menunjukkan bahwa kepeloporan tak selalu lahir dari pusat kota. Tahun ini, Irfan terpilih sebagai wakil Provinsi Jambi dalam Lomba Pemuda Pelopor Desa Tingkat Nasional 2025 bidang Lingkungan, ajang yang digelar oleh Kemenpora dan Kemendes PDTT.

Tidak banyak yang tahu, kepemimpinan Irfan dibentuk dari proses panjang. Sejak sekolah dasar ia sudah aktif dalam kegiatan sosial. Di bangku SMP, ia menjadi juara pencak silat dan O2SN. Saat SMA, ia dipercaya menjadi Ketua Rohis dan Ketua Keamanan Sekolah. Tapi Irfan bukan hanya anak muda yang sibuk memegang jabatan. Ia membangun komunitas, menanam gagasan, dan menggagas gerakan.

Saat kuliah di Universitas Jambi, ruang juangnya meluas. Ia aktif di HMI, menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Agrobisnis, anggota DPM, dan pelestari budaya Melayu lewat UKM Seni Budaya. Irfan tidak bicara soal perubahan dalam seminar ia hadir langsung di desa, membersamai petani, mendidik siswa, membangun kesadaran lingkungan. Dari situlah lahir Bank Sampah Karya Sejahtera Sebapo, yang ia rintis sebagai ruang edukasi, ekonomi, dan ekologi.

Melalui dukungan visi “Panca Cita” dari Bupati Muaro Jambi, bank sampah itu menjelma menjadi gerakan kolektif. Sampah bukan lagi masalah, tapi sumber daya. Irfan mengajarkan warga memilah, mengolah, dan menghasilkan. Anak-anak sekolah diajak peduli, remaja diberi ruang kreativitas, dan ibu rumah tangga diberi keterampilan daur ulang. Lingkungan jadi ruang belajar bersama, bukan sekadar beban bersama.

Irfan tak menawarkan perubahan instan. Ia hadir sebagai representasi pemuda desa yang bekerja diam-diam namun berdampak luas. Ia tidak datang membawa nama besar, tapi membawa satu hal yang mulai langka: keyakinan bahwa perubahan bisa tumbuh pelan-pelan, asalkan dimulai dari yang dekat, dari yang kecil, dari yang kita bisa.

“Lingkungan dan pertanian bukan cuma soal hari ini. Ini soal bagaimana kita meninggalkan sesuatu yang waras untuk generasi selanjutnya,” katanya. Dari Sebapo ke panggung nasional, Irfan mengingatkan kita bahwa desa bukan tempat menunggu bantuan, tapi tempat memulai perubahan.

share this :