Jurnal1Jambi.com,- Merangin, 29/7/2025 — Di tengah suasana hangat yang dipenuhi rasa haru dan bangga, halaman Markas Kodim 0420/Sarko menjadi saksi tradisi yang sarat makna. Dandim 0420/Sarko, Letkol Inf Suyono, S.Sos, memimpin langsung acara Kopraport Pisah Sambut Anggota Kodim 0420/Sarko yang berlangsung sejak pagi. Sebuah agenda yang tak sekadar formalitas, melainkan momentum untuk meneguhkan nilai loyalitas dan kekeluargaan di tubuh TNI.
Tradisi ini memiliki makna ganda: melepas personel yang telah mengabdi dengan sepenuh hati dan menyambut anggota baru yang akan menjadi bagian dari keluarga besar Kodim 0420/Sarko. Dalam amanatnya, Dandim menegaskan bahwa acara ini adalah bentuk penghormatan yang tak boleh diabaikan. “Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tapi kewajiban satuan untuk menghargai pengabdian dan menyambut semangat baru. Kita adalah keluarga besar. Kepada personel yang akan pindah, terima kasih atas dedikasi dan loyalitasnya. Kepada yang baru, jadikan Kodim ini rumah kedua dan ladang pengabdian,” tegas Letkol Inf Suyono.

Momentum ini sekaligus mengingatkan, di balik setiap pergeseran personel ada cerita pengabdian yang layak diapresiasi. Tidak hanya tugas yang dituntaskan, tetapi juga nilai kebersamaan yang dibangun di antara para prajurit. Di sisi lain, kehadiran anggota baru membawa harapan akan energi segar dan semangat inovatif untuk menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks.
Acara yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan ramah tamah dan makan bersama. Sebuah penutup sederhana, tetapi sarat pesan: bahwa kebersamaan bukan hanya kata, melainkan laku yang dirawat dalam setiap kesempatan. Di sinilah TNI menunjukkan wajah humanisnya, yang tak sekadar memegang senjata, tetapi juga mengikat silaturahmi.

Tradisi pisah sambut ini menjadi bukti nyata komitmen Kodim 0420/Sarko untuk menumbuhkan budaya organisasi yang solid dan saling menghargai. Apresiasi yang diberikan bukan sekadar penghargaan simbolik, tetapi pengakuan atas dedikasi yang tak ternilai. Karena di tubuh TNI, setiap prajurit bukan sekadar individu, melainkan bagian dari mata rantai kekuatan kolektif.
Namun, ada hal yang patut direnungkan: seiring perubahan generasi dan tuntutan zaman, bagaimana nilai-nilai kebersamaan ini tetap lestari di tengah arus pragmatisme? Jawabannya ada pada komitmen untuk terus merawat tradisi, bukan sekadar mengulang acara, tetapi menjaga ruh kebersamaan agar tetap hidup. Karena kekuatan sebuah satuan bukan hanya diukur dari alutsista, tetapi dari ikatan emosional yang membuat setiap prajurit merasa: ini bukan sekadar tugas, ini adalah pengabdian.












