Jurnal1jambi.com,- Dankodiklatad Letjen TNI Mohammad Hasan memimpin langsung Upacara Penutupan Dikmata Kesehatan TNI AD Gelombang I Tahun Anggaran 2026 di Pusdikajen Ditajenad, Lembang. Dalam amanat Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang dibacakannya, ditegaskan bahwa prajurit muda TNI AD tidak cukup hanya memiliki kemampuan tempur, tetapi juga harus mampu hadir di tengah masyarakat untuk mendukung pembangunan dan memperkuat ketahanan wilayah.
Sebanyak 825 mantan siswa resmi dilantik menjadi prajurit TNI AD berpangkat Prajurit Dua setelah menyelesaikan pendidikan dasar keprajuritan. Momentum itu menjadi titik awal perubahan besar, dari warga sipil menjadi bagian dari institusi militer yang dituntut siap mengabdi kepada bangsa dan negara dengan disiplin serta loyalitas tinggi.
Dalam amanatnya, Kasad menekankan bahwa pendidikan intensif selama dua bulan bukan hanya membentuk kemampuan fisik, tetapi juga mental, moral, dan karakter keprajuritan. Prajurit TNI AD, kata dia, harus memiliki kemampuan bela diri, menembak, renang militer, hingga taktik pertempuran, namun tetap menjunjung nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI sebagai fondasi moral pengabdian.
Dankodiklatad juga menyoroti pentingnya peran prajurit muda dalam mendukung penguatan Batalyon Teritorial Pembangunan yang diproyeksikan menjadi kekuatan strategis menghadapi tantangan multidimensional. Menurutnya, prajurit masa kini tidak hanya dituntut tangguh di medan operasi, tetapi juga adaptif dalam membantu masyarakat, termasuk saat penanganan pascabencana dan situasi darurat di daerah.
“Sebagai tamtama remaja, kalian membawa tenaga, semangat, dan energi baru yang sangat dibutuhkan oleh satuan,” ujar Letjen TNI Mohammad Hasan di hadapan para prajurit muda. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa regenerasi di tubuh TNI AD bukan hanya soal jumlah personel, tetapi juga tentang membangun karakter prajurit yang profesional sekaligus humanis.
Upacara penutupan berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran penyelenggara pendidikan, pelatih, pengasuh, serta tenaga pendidik yang selama ini membentuk para prajurit muda. Di tengah dinamika ancaman yang semakin kompleks, TNI AD tampaknya ingin memastikan satu hal: kekuatan militer tidak hanya lahir dari kemampuan bertempur, tetapi juga dari kedekatan dengan rakyat yang menjadi akar pertahanan bangsa.











