Oleh: Edi Sutiyo ( Ketum Simpe Nasional/ Pembina JARI)

Jurnal1jambi.com,- Gelombang keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai terdengar makin nyaring di berbagai daerah. Dalam opini yang disampaikan Ketua Umum Simpe Nasional sekaligus Pembina JARI, Edi Sutiyo di Bandung pada 09/05/2026, ia menyoroti melemahnya daya beli masyarakat dan perlambatan perputaran ekonomi yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil hingga pekerja sektor informal di era pemerintahan Prabowo Subianto.

Menurut Edi, kondisi itu terlihat dari menurunnya omzet pedagang kecil, lesunya usaha jasa, hingga banyak pelaku UMKM yang mulai kesulitan mempertahankan usahanya. Ia menilai, kombinasi kebijakan penghematan anggaran negara, pemangkasan belanja daerah, serta pengetatan ruang korupsi ikut memengaruhi peredaran uang tunai di masyarakat yang selama ini menjadi denyut utama ekonomi rakyat kecil.

“Selama ini uang beredar cepat karena banyak transaksi di lapangan, termasuk dari kebocoran anggaran yang akhirnya kembali dibelanjakan ke masyarakat. Ketika ruang itu ditutup dan anggaran diperketat, dampaknya terasa langsung ke rakyat kecil yang hidup dari perputaran ekonomi harian,” ujar Edi Sutiyo dalam pandangannya yang beredar di ruang publik.

Ia juga menyoroti pembentukan Danantara yang mengelola aset besar negara sebagai program jangka panjang yang dinilai belum memberi efek langsung bagi masyarakat bawah. Di sisi lain, program Koperasi Desa Merah Putih serta Makan Bergizi Gratis disebut masih menuai pertanyaan publik karena manfaatnya dianggap belum merata dan belum menyentuh kebutuhan ekonomi harian masyarakat luas.

Namun demikian, sebagian pihak memandang kebijakan pengetatan anggaran dan pemberantasan korupsi tetap menjadi langkah penting untuk memperbaiki fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang. Pemerintah dinilai tengah berupaya membangun sistem yang lebih bersih dan terukur, meski di saat bersamaan tantangan menjaga daya beli masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

Di tengah tarik-menarik antara idealisme pembangunan dan realitas dapur rakyat, satu hal menjadi jelas: ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi soal rasa aman masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika rakyat mulai sulit mencari penghasilan dan pasar kehilangan denyutnya, maka yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan besar, melainkan kehadiran negara yang benar-benar terasa di meja makan warganya.

share this :