Jurnal1jambi.com,- Di tengah realitas defisit anggaran, Bupati Sarolangun H. Hurmin bersama Dandim 0420/Sarko Letkol Inf Suyono menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur bukan sekadar wacana, melainkan komitmen yang diwujudkan. Proyek Karya Bhakti yang membentang dari Desa Bathin Pengambang hingga Batu Empang, Dusun Sekeladi, ini ditargetkan rampung pada 19 Agustus mendatang. Dengan panjang mencapai 8,57 kilometer, proyek ini menjadi simbol bahwa keterbatasan anggaran tidak berarti keterbatasan kerja.

Target yang dicanangkan bukan sekadar angka di atas kertas. Letkol Inf Suyono, perwira lulusan Akmil 2004, menegaskan bahwa jika cuaca bersahabat, pekerjaan akan selesai tepat waktu. Sebanyak 15 prajurit TNI bersama 15 warga bahu-membahu memperbaiki akses vital ini. Di lapangan, kerja fisik berarti membangun 37 box, 3 gorong-gorong baja, dan mengeraskan jalur yang sebelumnya rusak parah hingga sulit dilalui kendaraan roda empat.

Kerja bersama ini lebih dari sekadar teknis pembangunan. Ia adalah narasi tentang bagaimana negara hadir melalui TNI dan pemerintah daerah di titik-titik yang selama ini nyaris terlupakan. Bupati Hurmin menegaskan bahwa proyek ini menjadi prioritas, sejalan dengan visi menempatkan infrastruktur sebagai fondasi penggerak ekonomi desa. “Kita atur anggaran yang sedikit ini untuk hal yang benar-benar mendesak,” ujarnya, menyiratkan filosofi pemimpin yang memilih fokus ketimbang mengeluh pada keterbatasan.

Kolaborasi ini juga menjadi potret sinergi lintas sektor: militer dan sipil bekerja sama demi kepentingan publik. Tidak hanya soal jalan yang mulus, melainkan juga rasa percaya masyarakat yang tumbuh. Di tengah maraknya skeptisisme terhadap janji pembangunan, proyek ini menjadi bukti konkret bahwa janji bisa ditepati, asal ada niat dan strategi. Hurmin pun tak segan memuji inisiatif Dandim Sarko yang dianggap mampu menggerakkan sumber daya meski kondisi fiskal sedang ketat.

Bagi masyarakat Dusun Sekeladi, perbaikan ini bukan peristiwa biasa. Rianto, tokoh setempat, mengungkapkan rasa syukurnya—bahwa sejak kemerdekaan, baru kali ini jalan mereka mendapat sentuhan pemerintah. Pernyataan ini menggambarkan betapa panjangnya penantian warga, sekaligus betapa besar arti sebuah akses jalan bagi kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Jalan yang dulu menjadi penghalang kini berubah menjadi jembatan menuju peluang baru.

Pembangunan infrastruktur, dalam skala apa pun, selalu menyimpan pesan moral: bahwa negara tak boleh absen di wilayah yang jauh dari pusat. Di Batang Asai, pesan itu kini menemukan bentuknya. Jalan yang diperbaiki bukan sekadar urusan aspal dan gorong-gorong ia adalah simbol tekad, bahwa di tengah keterbatasan pun, perubahan tetap bisa dilaksanakan jika keberanian dan kolaborasi menjadi motor penggeraknya.

share this :