Jurnal1Jambi.com,- SAROLANGUN – Musim kemarau seakan datang membawa alarm bahaya. Di balik langit cerah yang menenangkan, ada ancaman laten yang tak kalah serius: kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Menyadari potensi ancaman ini, Koramil 04/Sarolangun bersama Babinkamtibmas, BPBD, Manggala Agni, dan kelompok masyarakat peduli api kembali turun ke lapangan, menggelar patroli gabungan di titik-titik rawan. Aksi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya konkret untuk memastikan bara api tak berubah menjadi bencana. (30/07/2025)

Langkah ini tak lahir dari kekhawatiran semata, melainkan dari kalkulasi logis: musim kemarau adalah pintu masuk risiko yang nyata. Desa Rantau Gedang dan Kecamatan Bathin VIII dipilih sebagai fokus patroli. Bukan tanpa alasan kedua wilayah ini memiliki karakteristik lahan yang rentan. Dalam konteks inilah, peran aparat bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pengingat, bahwa keselamatan ekosistem bukan tanggung jawab individu, melainkan komitmen kolektif.

Babinsa Sertu Harjanto bersama Babinkamtibmas desa Rantau Gedang bahkan tak segan turun langsung memantau perkembangan debit air Sungai Tembesi. Sebab mereka paham, pencegahan bukan sekadar soal menekan angka kejadian, tetapi juga membaca tanda-tanda alam. Turunnya aparat di lapangan mengirim pesan yang tegas namun reflektif: mencegah lebih murah dari memadamkan, dan jauh lebih manusiawi daripada mengobati luka lingkungan.

Patroli ini tak berhenti di titik panas, tetapi juga menyentuh akar masalah: kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar. Sosialisasi terus digencarkan, himbauan disampaikan dengan nada persuasif bukan intimidatif. Sebab persoalan Karhutla bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga soal budaya dan pemahaman. Mengubah pola pikir memerlukan kesabaran, bukan sekadar surat edaran.

Apakah langkah ini cukup? Tentu tidak. Pencegahan Karhutla membutuhkan orkestrasi kebijakan yang selaras: edukasi berkelanjutan, alternatif solusi pembukaan lahan, dan pengawasan berbasis teknologi. Patroli adalah garda terdepan, tetapi di baliknya harus ada strategi yang memastikan bahwa kita tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga mematikan “api” di pola pikir yang salah. Karena yang kita lawan bukan hanya bara, melainkan paradigma lama.

Pada akhirnya, Karhutla adalah cermin. Ia memantulkan bagaimana kita memandang alam: sekadar objek eksploitasi atau mitra kehidupan. Patroli Babinsa dan aparat terkait memberi pesan jelas: negara hadir, bukan hanya untuk menindak, tetapi untuk mendidik. Agar kelak, musim kemarau tidak lagi identik dengan kepanikan, melainkan menjadi ujian kedewasaan kita menjaga bumi yang sama-sama kita pijak.

share this :