Jurnal1jambi.com,— SENGKANG, Keluarga Besar Petta Jinnirala La Potji atau Wija Jinnirala La Potji akan menggelar Halal Bihalal Tahun 2026 pada 23 Maret 2026 di Aula Lampulung, Atakkae, Sengkang, Kabupaten Wajo. Kegiatan ini mengusung tema “Dengan Halal Bihalal, Kita Pererat Assisumpungeng Loloe dengan Prinsip Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, Malilu Sipakainge.”

Agenda tersebut diproyeksikan menjadi ajang silaturahmi besar lintas generasi keturunan Petta Jinnirala La Potji. Momentum ini bukan sekadar temu keluarga, tetapi ruang memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan tanggung jawab moral terhadap warisan leluhur.

Dalam catatan silsilah keluarga, La Potji merupakan putra La Tulu Datu Gilireng Cakkuridi Wajo, cucu To Allomo Cakkuridi Wajo, cicit La Tenri Sampeang Datu Kawerang, serta keturunan langsung La Maddukelleng Arung Peneki Sultan Pasir Arung Matoa Wajo ke-31 pada masa Kerajaan Wajo. Jejak genealogis ini menempatkan La Potji dalam garis sejarah panjang kepemimpinan dan perjuangan di tanah Wajo.

La Potji tercatat memiliki 17 istri dan 23 anak, terdiri dari 17 laki-laki dan 6 perempuan. Nama-nama tersebut antara lain Andi Made Ali, Andi Babba Sulewatang Gilireng, Andi Ummareng, Andi Nyompa, Andi Nganro, Andi Iskandar, Andi Mappasiling, Andi Saidek, Andi Patang, Andi Abdullah, Andi Bakkareng, Andi Kandacong, Andi Kulu, Andi Taking, Andi Kandefa, Andi Pangiang, Andi Mama, Andi Kumala, Andi Dellang, Andi Caya, Andi Besse, Andi Saomming, dan Andi Masauleng.

Untuk memahami sosok La Potji, sejarah harus ditarik lebih jauh ke awal lahirnya Gilireng Tana Rigella. Pada masa ketika wilayah dibuka dengan semangat kolektif, tanah bukan hanya ruang hidup, tetapi simbol kesepakatan menjaga negeri bersama. Arung hadir sebagai pengimbang, menjaga hukum tetap adil dan negeri tidak retak oleh kepentingan.

Dalam dinamika ancaman dan perubahan zaman, generasi Cakkuridi berdiri sebagai penjaga kehormatan. Peran Jinnirala kemudian lahir bukan sekadar sebagai panglima, melainkan penjaga kesinambungan nilai. La Potji hidup dalam arus perubahan itu—mewarisi tradisi, menyesuaikan diri dengan zaman, tetapi tetap memegang prinsip siri’ dan martabat.

Halal Bihalal 23 Maret 2026 di Sengkang menjadi pengingat bahwa sejarah tidak berhenti pada nama besar. Ia berlanjut pada bagaimana generasi hari ini memaknai dan menjaga warisan tersebut—mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge—sebagai fondasi kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. (Red)

share this :