Jurnal1jambi.com,— Bandung, 30/8/2025 – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Bandung menegaskan komitmennya dalam mengawal sikap politik organisasi melalui PANCATURA (Lima Tuntutan Rakyat). Konsolidasi serentak DPC/DPD GMNI se-Indonesia menghasilkan seruan bersama yang menyoroti kondisi demokrasi yang dinilai tengah menghadapi ujian serius.
GMNI Bandung menilai, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) gagal menyerap aspirasi rakyat, sementara tindakan represif aparat kepolisian semakin meningkat. Situasi ini, menurut mereka, memperlihatkan adanya krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara yang seharusnya berdiri di barisan rakyat.
Melalui PANCATURA, GMNI Bandung menyampaikan lima tuntutan utama: pertama, mendesak Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) segera memecat Ahmad Sahroni atas pernyataan provokatif yang dianggap mengganggu stabilitas nasional. Kedua, menuntut DPR RI menghentikan pembahasan kenaikan tunjangan fantastis yang mencederai rasa keadilan rakyat. Ketiga, meminta Polri bertanggung jawab atas tewasnya Alm. Affan Kurniawan, driver ojek online, yang terlindas mobil rantis Brimob, serta segera memecat oknum terlibat.
Keempat, GMNI Bandung menekankan pentingnya reformasi internal Polri agar kembali pada tugas pokok: melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, bukan menjadi tameng penguasa. Kelima, memastikan seluruh jajaran kepolisian, khususnya di Jawa Barat dan Bandung Raya, tidak melakukan tindakan represif terhadap rakyat yang menyampaikan aspirasi secara damai.
Ketua DPC GMNI Bandung, Muhammad Irvan Fadillah Ramadhan, menegaskan bahwa PANCATURA bukan sekadar seruan, melainkan komitmen perjuangan. “GMNI Bandung berdiri tegak bersama rakyat. Lima Tuntutan Rakyat ini adalah suara kolektif yang harus diperjuangkan. Kami juga mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset sebagai komitmen Indonesia bebas dari korupsi. Selama rakyat masih ditindas, GMNI Bandung akan terus berjuang,” tegasnya.
Aksi lanjutan pun telah digelar pada 29 Agustus 2025 di berbagai daerah. GMNI Bandung mengecam keras kekerasan aparat terhadap massa aksi dan mengkritik wakil rakyat yang memilih bungkam. “Atribut boleh rusak, tubuh boleh luka, tetapi semangat juang kami tidak akan pernah padam. GMNI Bandung tidak akan mundur selangkah pun dari barisan rakyat,” tutup Irvan.











