Jurnal1jambi.com,— Di tengah hiruk-pikuk dunia hukum yang sering terasa kaku dan formal, ada satu pertemuan yang hangat dan penuh semangat kolaborasi. Sabtu, 1 November 2025, di sebuah resto sederhana bernama Burjo Borneo Tembalang, Semarang, para pengurus dan anggota Federasi Advokat dan Paralegal Indonesia (FERADI WPI) dari berbagai kota berkumpul. Mereka tak sekadar berbincang tentang pasal atau perkara, melainkan tentang mimpi besar: membangun Super Blok Kemanusiaan proyek sosial yang berani dan visioner.

Pertemuan dua jam itu berlangsung tanpa protokol berlebihan. Hidangan sederhana menemani obrolan yang justru sarat makna. Di meja yang penuh tawa dan ide, muncul satu kesepahaman: hukum bukan hanya tentang keadilan di ruang sidang, tapi juga tentang keberpihakan pada kemanusiaan. Dari sinilah gagasan besar lahir sebuah kawasan terpadu yang memberi akses kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial bagi masyarakat kurang mampu. Semuanya, gratis.

Super Blok ini dirancang bukan sekadar bangunan fisik, tapi simbol keberpihakan. Di dalamnya akan berdiri rumah sakit, sekolah, universitas, tempat pelatihan kerja, dapur umum, panti asuhan, panti jompo, tempat rehabilitasi, hingga hotel sosial. Satu kawasan untuk menjahit luka sosial dengan kepedulian nyata. Sebuah konsep yang barangkali terlalu ideal untuk zaman yang serba transaksional tapi justru di situlah keberaniannya.

FERADI WPI tidak berjalan sendiri. Kolaborasi luas terbentuk bersama FERADI OFFICUM NOBILE, FERADI MEDIATORE, Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia (KAWAN JARI/IWJRI), Perkumpulan Masyarakat Bertato Indonesia (PMBI), Firma Hukum Subur Jaya & Rekan, PT. Kawan Jari Grup, dan KawanJariNews.com. Jaringan ini menjadi semacam “ekosistem kemanusiaan” yang ingin menjembatani hukum, media, dan masyarakat.

Rencana besar ini juga punya visi geografis yang luas membangun Super Blok di setiap provinsi. Bukan untuk menancapkan nama, tapi untuk menyalakan obor kecil di setiap daerah: bahwa keadilan sosial bukan jargon, melainkan kerja bersama yang bisa diwujudkan. Seperti yang sering dikatakan generasi muda hari ini, talk less, do more.

Dalam pandangan saya, apa yang dilakukan FERADI WPI adalah semacam “politik kebajikan” di luar panggung partai. Ia mengembalikan makna advokat pada akar moralnya: melindungi yang lemah, memberi suara bagi yang tak didengar. Jika benar Super Blok ini berhasil terwujud, mungkin inilah salah satu bentuk paling nyata dari hukum yang hidup hukum yang tidak hanya berbicara, tapi juga bekerja untuk manusia.

share this :