Jurnal1jambi.com,- Muaro Jambi, 27/8/2025 — Aksi kekerasan terhadap penyelam pencari barang di Sungai Batanghari kembali terjadi. Peristiwa terbaru berlangsung di Desa Gedong Karya, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muaro Jambi, pada Rabu (27/8), dan menyebabkan salah satu korban mengalami luka serius.
Insiden ini terjadi tak lama setelah kasus serupa sebelumnya, yakni penyerangan dan pembakaran kapal pompong milik pekerja sungai. Namun, hingga kini tidak ada kejelasan hukum atas insiden-insiden terdahulu. Alih-alih mereda, kekerasan kembali terulang dan memicu kekhawatiran di kalangan pencari nafkah di aliran sungai tersebut.
Korban terbaru bernama Zulkarnain, warga Kota Jambi, yang telah melaporkan kejadian ini ke Polda Jambi melalui Surat Tanda Terima Laporan (STTLP) Nomor: STTLP/B/2797/VIII/2025. Laporan itu mengacu pada dugaan tindak pidana penganiayaan sesuai Pasal 351 dan/atau 170 KUHP sebagaimana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1946.

Dalam keterangannya, Zulkarnain menjelaskan bahwa ia bekerja sebagai pengawas para penyelam pencari barang di dasar Sungai Batanghari. Saat berada di wilayah yang diklaim masuk kawasan Desa Gedong Karya, ia didatangi sejumlah pemuda bersama aparat Polair dan Bhabinkamtibmas yang meminta aktivitas dihentikan. Namun, saat hendak pulang sekitar pukul 13.00 WIB tanpa pengawalan, kelompok mereka justru diserang oleh orang tak dikenal menggunakan ketapel berisi kelereng. Serangan itu menyebabkan luka di kepala dirinya dan beberapa pekerja lain.
Zulkarnain mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah tegas. Ia menilai pentingnya kejelasan aturan soal zona pencarian barang di Sungai Batanghari. “Kalau memang kawasan itu dilarang, seharusnya ada plang atau himbauan resmi. Jangan sampai kami mencari rezeki, tapi justru diserang,” ujarnya.
Ia bahkan menduga kuat bahwa kekerasan ini tidak dilakukan spontan oleh warga, melainkan merupakan aksi terorganisir yang berulang dan terkesan dibiarkan. “Kami curiga ada backing di balik penyerangan ini. Pola dan caranya terus berulang, tapi tak pernah ada penyelesaian,” tutup Zulkarnain dengan nada kecewa.











