Jurnal1Jambi.com,- MERANGIN — Kemarau selalu datang membawa dua wajah: satu menenangkan, satu lagi mengancam. Di balik langit cerah, ada bara yang siap melahap hutan dan lahan jika kita lengah. Babinsa Koramil 420-07/Sei Manau, Serka Ependes, memilih tidak diam. Pada Rabu (30/07/2025), ia turun ke Desa Sungai Jering, Kecamatan Pangkalan Jambu, untuk satu misi: mencegah Karhutla agar tak menjadi bencana yang menghitamkan masa depan.
Sosialisasi ini bukan sekadar seremonial. Babinsa menyampaikan pesan yang tegas: jangan jadikan api sebagai jalan pintas membuka lahan. Dari hasil pemantauan lapangan, situasi memang masih aman, tanpa asap maupun percikan api. Namun, pengalaman mengajarkan bahwa kebakaran selalu dimulai dari satu kelalaian kecil. Dan kelalaian adalah lawan yang tak terlihat.
Serka Ependes menegaskan bahwa peran masyarakat adalah garda terdepan. Informasi dini, kesadaran bersama, dan keberanian untuk saling mengingatkan adalah benteng pertama melawan Karhutla. “Kami mengimbau agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pencegahan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya. Pesan ini sederhana, tetapi jika diabaikan, akibatnya bisa meluas seperti bara yang berubah menjadi amukan api.
Sosialisasi akan terus dilakukan secara berkala. Tidak cukup dengan peringatan di musim kemarau, tapi juga edukasi berkelanjutan. Karena Karhutla bukan hanya soal lahan yang hangus, tetapi soal udara yang kita hirup, kesehatan yang kita pertaruhkan, dan ekosistem yang kita rusak. Di sinilah makna sesungguhnya: menjaga hutan bukan romantisme hijau, tetapi kebutuhan hidup yang paling nyata.
Koramil 420-07/Sei Manau menegaskan komitmennya: upaya preventif tak boleh berhenti. Karena satu percikan api bisa membakar ratusan hektare, dan satu kelalaian bisa menelan masa depan. Maka sebelum api menjalar ke hutan, kesadaran harus menjalar lebih dulu ke hati kita. Sebab Karhutla bukan takdir, ia adalah pilihan pilihan untuk lalai atau peduli. Dan hari ini, Babinsa bersama masyarakat memilih yang kedua.











