Jurnal1jambi.com,- Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Ripin Muaro Jambi memberikan klarifikasi resmi terkait keluhan sejumlah pasien mengenai pelayanan di instalasi farmasi pada 11/03/2026. Direktur Utama RSUD Ahmad Ripin, Agus Subekti, menegaskan bahwa tidak ada praktik pengurangan atau penyunatan obat, melainkan terjadi miskomunikasi teknis terkait jadwal kontrol pasien.
Persoalan bermula ketika seorang pasien merasa tidak menerima obat sesuai catatan sistem setelah menjalani pemeriksaan di poliklinik spesialis. Setelah dilakukan penelusuran dan audit internal oleh manajemen rumah sakit, ditemukan bahwa pasien tersebut datang lebih awal dari jadwal kontrol yang telah ditentukan.
Direktur Utama RSUD Ahmad Ripin, Agus Subekti, menjelaskan bahwa seluruh proses pemberian obat selalu mengacu pada resep dokter dan tercatat dalam sistem rumah sakit. “Kami telah melakukan penelusuran mendalam dari bagian Farmasi dan Poliklinik Spesialis. Tidak ditemukan adanya pengurangan obat, yang terjadi adalah miskomunikasi terkait jadwal kontrol pasien,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut Agus, pasien sebenarnya dijadwalkan melakukan kontrol ulang pada 11 Maret, namun terdapat kesalahan penyampaian informasi dari perawat yang menyarankan pasien datang lebih awal pada 6 Maret. Karena stok obat pasien saat itu masih mencukupi hingga jadwal kontrol berikutnya, dokter memutuskan tidak memberikan resep obat tambahan pada kunjungan tersebut.
Manajemen rumah sakit menilai kejadian ini menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya koordinasi komunikasi antara tenaga medis, perawat, dan instalasi farmasi. Di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap layanan kesehatan, kejelasan informasi menjadi faktor krusial agar tidak memicu kesalahpahaman di masyarakat.
Meski memastikan tidak ada pelanggaran prosedur, pihak RSUD Ahmad Ripin tetap menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pasien. Klarifikasi ini diharapkan mampu meredakan spekulasi yang berkembang, sekaligus mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya soal obat dan tindakan medis, tetapi juga soal komunikasi yang jernih dan kepercayaan publik yang harus dijaga.












