Jurnal1jambi.com,- Sekber Wartawan Indonesia (SWI) kembali menunjukkan bahwa peran pers tidak berhenti pada ruang redaksi. Dari Kudus, organisasi ini meluncurkan gagasan besar: mengintegrasikan kekuatan pers dengan pemerintah untuk mendorong ekonomi hijau dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Gagasan tersebut bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan terstruktur yang menyasar desa sebagai pusat perubahan, dengan dukungan para pemangku kebijakan di seluruh Indonesia.
Konsep Gerakan Hijau Nasional ini lahir dari pemikiran dan praktik yang telah dijalankan Rochmad Taufiq, anggota SWI DPD Kudus sekaligus owner Banana Garden Kudus. Bersama Prof. Dr. Ir. Supriyat Nasir, M.B.A., ia merumuskan model ekonomi keluarga berbasis lingkungan melalui integrated farming—nabung pisang dan nabung ayam yang menawarkan jawaban konkret bagi ekonomi rakyat serta selaras dengan agenda besar ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. Diskusi keduanya kini masuk sebagai program resmi Munas SWI 2026, memperkuat legitimasi gerakan ini secara nasional.
Di internal SWI, kesadaran bahwa pers harus menjadi motor perubahan semakin menguat. Plt Ketum/Sekjen SWI, Ir. Hery Budiman, menegaskan bahwa pers tidak cukup hanya memberitakan, tetapi harus menginspirasi dan menggerakkan. Melalui gerakan ini, SWI mendorong penghijauan desa, budidaya komoditas produktif, penguatan UMKM berbasis lingkungan, serta pendampingan publikasi bagi petani dan pemerintah desa. Pers menjadi jembatan yang mempertemukan rakyat dengan arah pembangunan bangsa.

Komitmen tersebut dibuktikan lewat serangkaian rapat besar menuju Munas SWI 2026 di Boyolali. Dari rapat panitia di Jakarta pada 27 November 2025 hingga Rakorwil Jawa Tengah di kantor DPD SWI Kudus milik Dr. Win Saputra seluruh proses menunjukkan bahwa Jawa Tengah kini menjadi titik api energi organisasi. Para pengurus DPD se-Jawa Tengah secara terbuka menyatakan kesiapan mereka menjadi pionir Gerakan Hijau Nasional SWI.
Munas SWI pada 22–25 Mei 2026 dirancang bukan hanya sebagai agenda organisasi, melainkan momentum transformasi nasional. Sejumlah program konkret disiapkan: Nabung Pisang Nasional, Jagung 20.000 hektare, Vanili 200 hektare, Wood Pellet dan Silase Nasional, integrasi pisang–ternak ayam, hingga Gerakan Penghijauan Nasional SWI. Seluruhnya melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, akademisi, pelaku usaha, dan insan pers sebagai penggerak utama edukasi publik.
Melalui gerakan ini, SWI menegaskan bahwa ekonomi hijau bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik rakyat. Pers hadir bukan sekadar pelapor, tetapi bagian dari solusi. SWI membuktikan bahwa wartawan dapat menjadi agen perubahan, bahwa organisasi profesi dapat memimpin gerakan ekologis yang berdampak nyata. Inilah napas baru bagi Indonesia pers yang tidak hanya mengabarkan masa depan, tetapi ikut menanamnya.











