Jurnal1jambi.com,- Keceriaan akhir pekan di Lapangan Merdeka Kota Sungai Penuh berubah menjadi duka mendalam ketika Gilang, bocah berusia tujuh tahun, ditemukan tak bernyawa di dalam lipatan istana balon yang telah ditutup pengelola. Wahana yang semestinya menjadi ruang tawa itu menjelma menjadi tempat tragedi, menyisakan luka bagi keluarga dan kegelisahan bagi warga yang menyaksikan peristiwa tersebut. Tidak ada yang membayangkan malam santai itu akan berakhir dengan kabar kehilangan sebesar ini.

Menurut keterangan keluarga, Gilang sempat menikmati makan malam bersama orang tuanya sebelum meminta izin bermain di wahana balon. Dalam hitungan menit, suasana riang berubah menjadi kegelisahan. Ketika sang anak tak kunjung kembali, keluarga mulai menyisir area lapangan dan mencari informasi pada pemilik wahana. Jawaban yang diterima bahwa Gilang tidak terlihat bermain hanya menambah kecemasan yang menggantung sepanjang malam itu.

Kecurigaan keluarga memuncak ketika kakek korban kembali mendatangi wahana yang telah dilipat dan ditutup. Ia meminta pengelola membuka kembali lipatan istana balon tersebut. Dari sanalah kenyataan paling pahit tersingkap. Tubuh mungil Gilang ditemukan terhimpit dalam lipatan balon, terlentang tanpa respons. Tidak ada orang tua atau kakek di dunia ini yang siap menyaksikan pemandangan seperti itu; detik itu juga, tangis dan kepanikan tak bisa lagi dibendung.

Upaya menyelamatkan Gilang dilakukan secepat mungkin. Keluarga membawanya ke Rumah Sakit DKT Sungai Penuh dalam kondisi kritis, berharap masih ada sedikit ruang bagi keajaiban. Namun harapan itu padam hanya lima menit setelah tiba di ruang perawatan. Dokter menyatakan Gilang sudah tidak lagi bernyawa. Keheningan malam itu sontak berubah menjadi jeritan kehilangan yang memecah suasana Lapangan Merdeka.

Kasus ini bukan sekadar tragedi tunggal; ia adalah seruan keras mengenai lemahnya standar keselamatan di wahana permainan yang sering tumbuh tanpa pengawasan memadai. Di tengah hiruk-pikuk hiburan malam, perhatian terhadap prosedur keamanan sering kali diabaikan. Kelalaian berjalan beriringan dengan rutinitas, hingga sebuah nyawa melayang dan barulah publik tersentak bahwa ada yang tidak pernah benar-benar diawasi.

Kini, Lapangan Merdeka menyisakan bayangan yang tak mudah hilang. Tragedi ini layak menjadi evaluasi bagi pemerintah daerah, pengelola wahana, dan orang tua, bahwa keselamatan anak bukan perkara sepele. Gilang mungkin telah pergi, tetapi kisahnya seharusnya menjadi peringatan yang menggugah: ruang bermain anak tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa standar keselamatan yang tegas, pengawasan yang jelas, dan tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.

share this :