Jurnal1jambi.com,— Namrole — Ada yang berbeda di Namrole sore itu. Di sebuah kafe bernama Ulataha, suara tawa dan diskusi berpadu dalam satu ruang ide bernama “Bacarita: Bincang-Bincang Inspiratif Seputar Perizinan dan Investasi.” Inisiatif yang digagas Hakim Souwakil, peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan XVI Tahun 2025, ini bukan sekadar agenda formal, tapi gerakan kecil menuju birokrasi yang lebih mendengar, lebih dialogis, dan tentu, lebih manusiawi.

Didukung langsung oleh Bupati Buru Selatan melalui Asisten II Rahmad Dasuki, serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP, Mahmud Umanailo, kegiatan ini menghadirkan semangat baru pelayanan publik. Rahmad menyebut Bacarita sebagai simbol perubahan arah birokrasi. “Forum seperti ini adalah jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Kritik dan ide dari pelaku usaha bukan ancaman, tapi bahan bakar perubahan,” ujarnya penuh keyakinan.

Nada yang sama digaungkan Mahmud Umanailo. Ia menilai gagasan Souwakil sebagai inovasi yang membawa dampak nyata bagi masyarakat. “Bacarita mendorong masyarakat sadar akan pentingnya izin dan keberanian untuk berinvestasi. Legalitas itu bukan beban, tapi perlindungan. Kita ingin masyarakat tumbuh dengan dasar yang kuat,” jelasnya.

Bagi Hakim Souwakil, Bacarita bukan sekadar proyek, tapi refleksi dari kesadaran baru, bahwa ruang perubahan bisa lahir dari percakapan sederhana. “Sering kali ide besar tumbuh dari obrolan ringan. Dari mendengar, kita bisa memahami, lalu membangun. Itu inti dari Bacarita,” ungkapnya. Ia berharap forum ini menjadi pintu masuk menuju birokrasi yang tak hanya melayani, tapi juga berempati.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber muda dengan semangat pembangunan daerah: Nawan Souwakil, Ketua Badan Pembina HIPMI Bursel; Mario Solissa, staf DPMPTSP; dan Helmi Latuconsina dari Dinas Penanaman Modal dan PTSP. Ketiganya membahas strategi investasi, kemudahan izin usaha, serta pentingnya pelaporan kegiatan penanaman modal sebagai fondasi transparansi ekonomi lokal.

Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai elemen mulai dari perwakilan pemerintah daerah, HIPMI, KNPI, APKLI, hingga pelaku usaha dan insan pers ini ditutup dengan pesan reflektif dari Souwakil: “Perubahan besar tidak selalu lahir dari ruang rapat. Kadang, ia dimulai dari meja kecil, secangkir kopi, dan keberanian untuk bacarita.”

share this :