Jurnal1jambi.com,- Merangin, 2/9/2025 — Di tengah ancaman laten kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus membayangi musim kemarau, sekelompok aparat negara dan warga sipil bergerak senyap namun pasti. Dari desa kecil bernama Benteng, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, patroli terpadu digelar bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai ikhtiar kolektif menjaga paru-paru negeri.
TNI melalui Babinsa Koramil 420-07/Sei Manau Kodim 0420/Sarko, Serka Ependes Suandi, memimpin langkah bersama Tim Manggala Agni, Polsek Sei Manau, aparat desa, dan warga. Mereka menyusuri titik-titik rawan api, bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab semua, bukan hanya mereka yang berseragam.
“Kami tidak hanya patroli, kami juga memberi pemahaman langsung kepada warga bahwa membakar lahan bukan jalan keluar,” ujar Serka Ependes. Lebih dari sekadar pengawasan, ini adalah edukasi, pendekatan humanis yang mengajak warga menjadi bagian dari solusi bukan sekadar objek larangan.
Di desa yang dulu akrab dengan praktik pembakaran lahan sebagai jalan pintas membuka kebun, kini gema perubahan mulai terasa. Sosialisasi yang intens membuahkan kesadaran baru: menjaga hutan bukan sekadar mencegah api, tapi juga merawat masa depan anak cucu. Ini tentang warisan ekologis yang tak bisa digantikan oleh angka rupiah.
Kehadiran patroli terpadu juga menjadi simbol sinergi: antara negara dan rakyat, antara penegak hukum dan penjaga lingkungan. Di sinilah TNI, Polri, dan masyarakat berjalan seirama, menyatukan langkah dalam misi yang sama bukan karena diinstruksikan, tetapi karena disadari.
Dan gerakan ini tidak berhenti hari ini. Patroli semacam ini akan terus dilaksanakan secara berkala. Karena menghadapi musim kemarau tanpa kesiapan adalah sama dengan mengundang bencana. Maka, mereka memilih bergerak lebih dulu agar api tak sempat membakar harapan.












