Jurnal1jambi.com,— Desa Mendalo Darat, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, baru saja mencatat sejarah penting. Program ketahanan pangan nasional melalui penanaman jagung hibrida satu hektar per desa resmi dimulai di desa ini, Rabu (27/8/2025). Di RT 21, sejak pukul 08.30 WIB, tanah digarap, bibit ditanam, dan optimisme ditabur bersama-sama.

Kepala Desa Bambang Santoso menyebut jagung bukan hanya komoditas, tapi simbol perlawanan terhadap ketergantungan pangan. Kata kuncinya sederhana: kemandirian. Desa tidak boleh selamanya menunggu kiriman beras atau jagung dari luar. Justru desa harus menjadi motor penggerak, memperlihatkan bahwa kedaulatan pangan dimulai dari akar rumput, bukan sekadar dari rapat di gedung-gedung pusat.

Kapolsek Jaluko, Iptu Yohanes Chandra Putra, menambahkan narasi yang lebih jauh: ini bukan seremoni, tapi langkah sejarah. Pernyataannya mengingatkan bahwa pembangunan tak boleh berhenti di spanduk dan pidato. Jagung yang ditanam hari ini harus berbuah panen nyata, agar dana desa kembali dalam bentuk kesejahteraan. Jaluko, katanya, jangan hanya jadi contoh, tapi contoh yang berhasil dengan gemilang.

Camat Jaluko, Dede Novianto, menggarisbawahi satu hal penting: Mendalo Darat telah membantah stigma. Desa perumahan sering dianggap tak mungkin mandiri pangan. Hari ini, anggapan itu runtuh. Dengan gotong royong, Mendalo Darat membuktikan bahwa ruang hijau bisa tumbuh di tengah pemukiman. Bahwa ketahanan pangan tidak mengenal alamat—asal ada niat, semua bisa diwujudkan.

Namun mari jujur: keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh seremoni penanaman. Tantangan nyata menunggu di depan—dari perawatan tanaman, distribusi hasil panen, sampai memastikan program ini berkelanjutan, bukan proyek satu musim. Perlu sistem yang disiplin, transparansi dana desa, dan kolaborasi semua pihak agar jagung Mendalo Darat benar-benar menjadi ikon kemandirian.

Hari ini, Mendalo Darat menanam bibit jagung, tapi lebih dari itu: menanam kepercayaan. Percaya bahwa desa punya daya, bahwa pangan bisa mandiri, dan bahwa masa depan tidak akan ditentukan oleh impor semata. Jika desa lain mengikuti jejak ini, kedaulatan pangan Indonesia bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang tumbuh dari tanah, dari desa, dari akar rakyatnya sendiri.

share this :