Jurnal1jambi.com,- Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon menunjukkan transformasi progresif dalam pembinaan warga binaan melalui program kemandirian yang kini semakin berkembang, khususnya pada produksi sofa. Produk-produk kursi sofa yang dihasilkan warga binaan tak lagi dianggap sebelah mata kualitasnya bersaing, desainnya menarik, dan kini mulai dipasarkan secara luas, baik oleh keluarga warga binaan maupun masyarakat umum. Peningkatan pesanan ini mencerminkan tumbuhnya kepercayaan terhadap karya mereka dari balik jeruji.
Kepala Rutan Ambon, Ferdika Canra, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan keterampilan rutin, melainkan strategi pembinaan yang menyasar masa depan. Ia menegaskan bahwa warga binaan tidak cukup hanya menyelesaikan masa hukuman, tetapi juga harus dibekali kemampuan ekonomi agar siap hidup mandiri setelah bebas. Produksi sofa menjadi salah satu bentuk konkret dari orientasi pembinaan berbasis pemberdayaan ini.
Pelatihan yang diberikan bersifat menyeluruh dan berkelanjutan. Warga binaan diajarkan mulai dari tahap desain, pemilihan bahan, teknik produksi, hingga proses finishing yang memenuhi standar pasar. Mereka juga dilibatkan dalam proses pemasaran, sebagai bagian dari pembelajaran dunia usaha. Pola pembinaan seperti ini bukan hanya menyiapkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan pola pikir wirausaha dalam diri warga binaan.

Antusiasme dan keterlibatan warga binaan pun meningkat. Salah satu di antaranya, H.N., mengungkapkan rasa bangganya karena dapat menghasilkan karya bernilai ekonomi. Ia menyatakan bahwa keterampilan yang ia peroleh selama berada di Rutan Ambon akan menjadi modal penting untuk membangun hidup yang lebih baik di luar. “Saya merasa punya harga diri kembali, karya saya dibeli orang, dan saya ingin meninggalkan masa lalu kelam,” katanya.
Lebih dari sekadar dampak ekonomi, program ini juga menjadi terapi sosial dan mental bagi warga binaan. Mereka didorong untuk bertanggung jawab, berkreasi, dan percaya pada kemampuan diri. Sofa bukan hanya benda fisik, tapi simbol harapan dan titik balik kehidupan. Inilah bentuk nyata dari pendekatan pemasyarakatan yang humanis dan produktif, yang selaras dengan semangat pembangunan UMKM nasional.
Melihat tren permintaan yang terus meningkat, Rutan Ambon berkomitmen untuk memperluas kapasitas pelatihan dan menjadikan program ini sebagai model pembinaan unggulan. Harapannya, warga binaan yang bebas kelak tidak kembali menjadi beban sosial, melainkan mampu menjadi pelaku usaha baru di masyarakat. Dari balik tembok penjara, mereka sedang menata ulang takdir dengan tangan mereka sendiri satu sofa pada satu waktu.












