Jurnal1jambi.com,- Merangin, 20/8/2025 — Di tengah tantangan sosial yang makin kompleks, kehadiran aparat negara tak lagi cukup hanya dalam bentuk pengawasan. Ia harus hadir dalam bentuk keterlibatan. Itulah yang dilakukan Sertu Ipungri, Babinsa Koramil 420-09/Bangko, saat menggelar Komunikasi Sosial (Komsos) di Desa Empang Benao, Kecamatan Pamenang. Sebuah langkah kecil yang menyentuh jantung masyarakat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pembinaan Teritorial (Binter) TNI AD, namun esensinya jauh lebih dalam dari sekadar rutinitas militer. Di bawah terik siang dan keramahan warga desa, Sertu Ipungri memilih untuk tidak hanya hadir sebagai aparat, tetapi sebagai telinga yang mendengar dan sebagai bahu yang siap menopang. Komsos kali ini bukan sekadar instruksi ia adalah bentuk kemanusiaan yang membumi.

“Melalui komunikasi yang intens dan terbuka, kita bisa lebih dini mendeteksi potensi gangguan keamanan dan sosial,” ujar Sertu Ipungri, di sela-sela bincangnya bersama warga. Bagi dirinya, menjadi Babinsa bukan hanya menjalankan tugas formal. Itu adalah komitmen untuk menjaga denyut nadi desa tetap stabil dalam irama kebersamaan.

Lebih dari itu, pendekatan ini menunjukkan bahwa pertahanan negara tidak melulu tentang senjata, tetapi tentang kepercayaan. Ketika masyarakat merasa didengar dan dilibatkan, maka rasa aman bukan lagi barang mahal yang dibeli dari luar—melainkan tumbuh dari dalam. Babinsa hadir bukan sebagai simbol kuasa, tapi sebagai simpul sosial yang merajut harmoni.

Warga menyambut pendekatan ini dengan hangat. Amir (45), warga setempat, mengakui bahwa Babinsa kerap hadir dalam aktivitas harian mereka. Mulai dari gotong royong, diskusi ringan, hingga mediasi persoalan kecil di kampung. “Pak Babinsa bukan orang asing bagi kami. Beliau selalu datang tanpa diminta, membantu tanpa diminta,” katanya, penuh hormat.

Pendekatan yang dibangun Sertu Ipungri ini merefleksikan semangat TNI yang lebih adaptif dan humanis bahwa kekuatan sejati bukan hanya ada di barak dan senjata, tapi juga di hati rakyat. Karena ketika rakyat merasa memiliki aparatnya, maka negara akan kuat dari akar. Dan desa, sebagai garda terdepan, tak akan mudah digoyahkan oleh guncangan apa pun.

Dengan rutinitas Komsos yang konsisten, TNI tak sekadar menjaga wilayah, tetapi juga merawat kepercayaan. Di saat banyak institusi publik kehilangan sentuhan manusiawi, langkah Babinsa seperti ini menjadi relevan sekaligus inspiratif. Sebuah narasi kemanunggalan yang terus ditulis bukan dengan pidato, tapi dengan kehadiran yang nyata.

share this :