Jurnal1Jambi.com,- Merangin, 29/7/2025 — Kedekatan antara aparat negara dan warga bukanlah sekadar basa-basi, melainkan fondasi stabilitas sosial. Dalam semangat ini, Babinsa Koramil 420-08/Tabir, Koptu Richardo, menggelar komunikasi sosial (Komsos) bersama Ketua RT 14 dan warga Kelurahan Dusun Baru, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin. Suasana hangat dan egaliter menjadi panggung dialog terbuka, tempat aspirasi bertemu dengan tanggung jawab.
Pertemuan ini bukan hanya silaturahmi seremonial. Lebih dari itu, ia adalah upaya mendengar langsung denyut nadi masyarakat, menyerap aspirasi yang tak jarang tenggelam dalam riuhnya kebijakan. “Kegiatan ini penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyerap informasi langsung dari Pak RT terkait kondisi keamanan, ketertiban, dan potensi masalah sosial,” tegas Koptu Richardo. Kata-kata ini menandaskan satu hal: pencegahan masalah harus dimulai dari percakapan sederhana, sebelum berubah menjadi letupan konflik.
Di ruang diskusi yang tanpa sekat itu, Babinsa juga mengajak Ketua RT dan warga untuk menjaga kekompakan, meningkatkan kepedulian sosial, serta aktif berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Sebab keamanan bukan hadiah dari negara, melainkan hasil kerja bersama. Ketika warga peduli dan aparat responsif, stabilitas sosial bukan lagi wacana, tetapi realitas yang dihidupi.
Ketua RT 14, yang hadir bersama warga, merespons dengan apresiasi. Baginya, kehadiran Babinsa adalah bukti bahwa negara tidak hanya hadir di atas kertas, tetapi menjejak di tanah yang sama dengan rakyatnya. “Kami merasa diperhatikan,” ungkapnya, menandai bahwa pendekatan humanis jauh lebih efektif daripada instruksi yang kaku.
Danramil 420-08/Tabir pun menegaskan, Komsos bukan sekadar program kerja, melainkan strategi merawat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Strategi ini bukan untuk kepentingan sesaat, melainkan investasi jangka panjang dalam keamanan dan harmoni sosial. Karena ancaman terbesar bagi sebuah wilayah bukan hanya gangguan dari luar, tetapi retaknya kepercayaan di dalam.
Kegiatan yang berakhir dengan optimisme ini diharapkan tak berhenti pada momen, tetapi menjadi gerakan berkesinambungan. Sebab, silaturahmi yang dibarengi dialog kritis adalah vaksin sosial yang mampu menangkal konflik.












