Jurnal1Jambi.com,- Sarolangun, 29/7/2025 – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bukan lagi isu musiman, melainkan peringatan tahunan yang selalu menghantui. Menyadari dampak ekologis dan sosialnya yang masif, Babinsa Koramil 420-02/Ma Limun, Kodim 0420/Sarko, terus memperkuat langkah pencegahan melalui patroli dan sosialisasi intensif. Salah satu aksi nyata dilakukan Koptu Raden di Desa Bukit Bumi Raya, Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun.
Tak sekadar menyusuri wilayah rawan Karhutla, pendekatan dilakukan hingga ke akar masalah: kesadaran masyarakat. Koptu Raden memilih jalur komunikasi langsung, mendatangi warga di desa dan kebun mereka. “Kita turun langsung, mendatangi warga baik di desa maupun di kebun, agar pesan pencegahan Karhutla bisa sampai secara jelas dan tepat sasaran,” ujarnya. Upaya ini bukan formalitas, melainkan gerakan edukasi yang merangkul semua lapisan masyarakat agar merasa memiliki tanggung jawab bersama.
Langkah ini terasa relevan di tengah fakta bahwa kebakaran hutan bukan semata soal alam, tetapi hasil dari pilihan manusia: membakar lahan untuk praktis, tanpa memikirkan dampak ekologis jangka panjang. Sosialisasi yang dilakukan Babinsa adalah pengingat bahwa pencegahan jauh lebih murah daripada memadamkan api yang terlanjur membara. “Kita upayakan sosialisasi ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” tambah Koptu Raden, menegaskan komitmen mereka bukan setengah hati.
Kondisi wilayah Singkut hingga kini masih terkendali. Titik api yang sempat terdeteksi berhasil dipadamkan berkat respons cepat petugas dan koordinasi lintas pihak. Fakta ini menjadi bukti bahwa pencegahan bukan sekadar jargon, tetapi kerja kolektif yang melibatkan pemerintah, aparat, dan masyarakat. Tanpa itu, bencana hanya menunggu waktu.
Namun, persoalan Karhutla seharusnya tak hanya diselesaikan di level teknis. Ia menuntut kesadaran kritis: mengapa praktik pembakaran lahan terus berulang? Adakah kebijakan yang berpihak pada petani kecil agar mereka tak memilih jalan pintas yang merusak? Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan agar pencegahan Karhutla bukan hanya tugas Babinsa, tetapi tanggung jawab sistemik yang dijaga oleh kebijakan tegas, edukasi berkelanjutan, dan keberpihakan nyata pada lingkungan.
Patroli dan sosialisasi rutin yang dilakukan TNI di Sarolangun adalah benteng awal yang kokoh. Tetapi benteng ini akan rapuh jika kesadaran kolektif tak mengiringi. Karhutla adalah ujian: apakah kita memilih jalan sulit untuk menyelamatkan bumi, atau jalan mudah yang mengorbankannya? Jawaban ada di setiap tindakan kita, mulai dari kebun di desa hingga meja kebijakan di pusat.












