Jurnal1Jambi.com,- Tiang Pumpung, 26/7/2025 — Di tengah ancaman asap yang kerap menjadi tamu tak diundang setiap musim kemarau, Babinsa Koramil 420-06/Muara Siau memilih langkah proaktif. Peltu Zulhendri, bersama timnya, turun langsung ke Desa Sekancing Ulu, Kecamatan Tiang Pumpung, Kabupaten Merangin. Misi mereka jelas: mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebelum api pertama menyala. Sebuah ikhtiar yang terdengar sederhana, namun dampaknya menentukan: udara bersih atau bencana kabut asap.
Patroli ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk refleksi bahwa pencegahan sering kali kalah pamor dari pemadaman. Padahal, ketika bara sudah berubah jadi bencana, kita hanya bisa menghitung kerugian: paru-paru yang sesak, hutan yang jadi arang, dan nama bangsa yang kembali tercoreng di mata dunia. Pertanyaannya: mengapa kita masih harus menunggu tragedi untuk sadar bahwa api selalu lahir dari ceroboh kita sendiri?
Dalam tatap muka yang hangat namun serius, Peltu Zulhendri mengingatkan warga tentang bahaya membuka lahan dengan cara membakar. Bukan sekadar melanggar hukum, aksi itu mematikan kehidupan. “Jangan membakar, karena yang terbakar bukan hanya lahan, tapi masa depan,” tegasnya. Kata-kata itu bukan ancaman, melainkan peringatan bahwa bencana selalu dimulai dari satu puntung api yang diremehkan.
Respons warga Desa Sekancing Ulu memberi secercah harapan. Mereka berjanji bekerja sama, bukan hanya karena takut sanksi, tetapi karena paham bahwa bumi ini bukan milik satu generasi saja. Gotong royong menjaga lingkungan kini diuji, bukan di ruang seminar, melainkan di hutan yang menunggu apakah kita benar-benar peduli.
Danramil 420-06/Muara Siau, Kapten Inf Sitorus, menegaskan bahwa patroli dan sosialisasi akan terus digencarkan. “Pencegahan lebih baik daripada pemadaman,” ujarnya, singkat namun sarat makna. Pernyataan ini menampar kesadaran kita: seberapa serius negara, aparat, dan masyarakat melihat isu karhutla sebagai ancaman nyata, bukan sekadar headline musiman?
Pencegahan karhutla bukan sekadar program, tapi pertempuran sunyi melawan ego kita yang serakah dan malas berubah. Hari ini Babinsa berpatroli, tapi esok tanggung jawab ada di pundak kita semua. Karena menjaga hutan bukan tugas tentara semata, melainkan janji kita kepada anak cucu: bahwa mereka masih punya udara untuk dihirup, bukan hanya sejarah untuk dikenang.












