Jurnal1Jambi.com,- Sarolangun, 19/7/2025 — Satu hal yang tak pernah berubah dari api adalah sifatnya yang tak memilih. Ia melahap semak, hutan, rumah, dan harapan, tanpa ampun. Di tengah ancaman tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghantui wilayah Sumatera, Babinsa Koramil 420-04/Sarolangun, Serda Azwan, memilih tidak diam. Ia turun langsung ke lapangan, memimpin patroli rutin di Kecamatan Bhatin VIII, wilayah yang dikenal rawan terbakar.

Langkah ini bukan sekadar kewajiban administratif. Ini adalah bagian dari tanggung jawab moral dan ekologis yang dipikul aparat teritorial terhadap wilayah binaannya. Menyusuri lahan-lahan kosong dan semak belukar, Serda Azwan tak hanya mengamati, tetapi juga mengedukasi. “Kami tidak sekadar patroli, tapi juga mengingatkan masyarakat bahwa membuka lahan dengan membakar adalah langkah pendek yang berisiko panjang,” tegasnya dengan nada serius namun bersahabat.

Selama patroli, pendekatan dialogis dilakukan. Warga tidak digurui, tetapi diajak berpikir bersama. Karena mencegah karhutla bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih peduli. Edukasi diberikan agar masyarakat sadar: membuka lahan dengan api bukan solusi, tapi potensi bencana. Keterlibatan warga lokal bukan hanya diharapkan, melainkan dibutuhkan agar langkah pencegahan berjalan secara berkelanjutan.

Patroli ini menunjukkan bahwa kerja TNI di lini terdepan bukan hanya menjaga keamanan fisik, tapi juga kestabilan ekologis. Karena ketika hutan terbakar, yang terdampak bukan hanya udara dan tanah, tetapi juga kesehatan, ekonomi, bahkan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Karhutla adalah musuh bersama, dan penjaga pertamanya adalah kesadaran kolektif yang ditumbuhkan sejak dini.

Inisiatif Serda Azwan adalah bukti bahwa sinergi antara aparat dan warga bisa melahirkan langkah preventif yang berdampak luas. Di balik langkahnya yang senyap, ada kepedulian mendalam pada keberlangsungan hidup desa, lingkungan, dan anak cucu yang kelak mewarisi tanah yang sama. TNI dalam hal ini, hadir bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tapi juga penjaga kelestarian.

Di tengah panasnya musim kemarau dan suhu yang tak menentu, langkah seperti ini menjadi oase harapan. Bahwa mencegah lebih baik bukan sekadar pepatah, tapi aksi nyata. Bahwa satu langkah ke semak yang belum terbakar, bisa menyelamatkan ribuan hektare di kemudian hari.

share this :