Jurnal1Jambi.com,- Merangin, 18/7/2025 — Ketika musim kemarau mulai menampakkan taringnya, Desa Air Lago, Kecamatan Muara Siau, justru menyuguhkan pemandangan yang membesarkan harapan. Dua aparat kewilayahan, Babinsa Koramil 420-06/Muara Siau, Sertu Al Husein Harahap, dan Bhabinkamtibmas Polsek Muara Siau, berkeliling kampung dengan poster besar bertuliskan “STOP KARHUTLA”. Bukan sekadar simbolik, aksi ini adalah upaya nyata menggugah kesadaran publik bahwa membakar lahan bukan lagi solusi, melainkan ancaman.

Mengandalkan pendekatan dialogis dari rumah ke rumah, para petugas ini menyampaikan pesan yang sederhana tapi genting: hentikan praktik membuka lahan dengan cara dibakar. Tradisi lama itu kini menjadi bom waktu ekologis yang tak hanya menyulut api, tapi juga risiko hukum dan kesehatan. Seruan ini bukan sebatas larangan, tapi ajakan membangun ulang budaya bertani yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Sinergi ini bukan soal seragam TNI atau Polri, tapi tanggung jawab kolektif menjaga bumi tempat kita berpijak,” tegas Sertu Al Husein Harahap. Dalam situasi darurat iklim seperti sekarang, kolaborasi bukan hanya pilihan ia menjadi satu-satunya jalan. Hukum memang bisa menjerat, tapi perubahan hanya akan datang jika kesadaran tumbuh dari dalam masyarakat itu sendiri.

Bhabinkamtibmas menambahkan pentingnya partisipasi aktif warga. Bukan hanya dalam bentuk kepatuhan, tetapi juga keberanian untuk melapor jika menemukan titik api. Ketika masyarakat dilibatkan bukan sebagai objek, tetapi subjek utama dari pencegahan, maka kampanye ini menjadi milik bersama, bukan proyek sektoral yang selesai dalam laporan akhir tahun.

Respons warga tak kalah menggembirakan. Banyak dari mereka menyambut baik pendekatan ini. Ada yang mengaku baru menyadari besarnya bahaya karhutla setelah dialog intensif berlangsung. Kesadaran tumbuh bukan karena ancaman pidana, melainkan karena mereka merasa dihargai dan didengarkan sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penyebab masalah.

Langkah ini seharusnya menjadi cermin dan cambuk bagi wilayah-wilayah lain yang masih abai atau sekadar mengandalkan slogan. Di tengah kompleksitas persoalan karhutla, Desa Air Lago menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari akar, dari obrolan di teras rumah, dari poster sederhana yang membawa pesan besar: bahwa mencegah bukan hanya lebih baik daripada mengobati ia adalah bentuk cinta paling awal pada bumi yang kita tinggali.

share this :