Jurnal1Jambi.com,- Merangin – Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, SMAN 13 Merangin mengawali tahun ajaran baru 2025/2026 dengan langkah strategis: menanamkan kembali nilai-nilai dasar kebangsaan kepada para siswa baru. Dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang digelar di Desa Sukorejo, Kecamatan Margo Tabir, hadir sosok Babinsa dari Koramil 420-08/Tabir, Serda Suprapto Tendean, yang menjadi motor penggerak nilai-nilai kedisiplinan dan cinta Tanah Air.
Dengan pendekatan edukatif dan penuh semangat, Serda Suprapto membawakan materi tentang Wawasan Kebangsaan, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), serta pentingnya membangun sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Kehadirannya bukan sekadar simbol kemiliteran, tetapi perwujudan nyata dari komitmen TNI untuk ikut membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan berintegritas.
Kepala SMAN 13 Merangin, Muanas, S.Pd., menyebut keterlibatan TNI dalam kegiatan sekolah sebagai langkah strategis membangun karakter di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi. “Patriotisme di kalangan remaja kini cenderung memudar, tergeser oleh budaya instan. TNI melalui Babinsa menjadi teladan konkret yang mengajarkan kedisiplinan, semangat gotong royong, dan cinta NKRI secara langsung di ruang-ruang pendidikan,” tegasnya.
MPLS bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi menjadi titik awal pembentukan identitas dan orientasi nilai bagi peserta didik baru. Melalui interaksi langsung dengan tokoh-tokoh inspiratif, siswa diajak mengenali lingkungan sekolah, guru, dan budaya belajar secara utuh. Ini bukan sekadar penyesuaian, tetapi proses pendewasaan awal menuju generasi pembelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berkarakter kuat.
Di akhir sesi, semangat kebangsaan menggema dalam pekikan “NKRI Harga Mati!” yang dipimpin langsung oleh Serda Suprapto. Seruan itu bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa di tengah kebebasan digital dan derasnya informasi global, pondasi kebangsaan tetap harus dijaga agar generasi muda tidak kehilangan arah.
Dalam konteks pembangunan bangsa, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari semangat kebangsaan. Ketika ruang-ruang digital sering kali mengaburkan batas nilai, maka sekolah harus menjadi benteng terakhir yang mampu menyaring dan menanamkan karakter. Dan di sinilah peran kolaboratif antara pendidik dan aparat negara menjadi vital bukan hanya sebagai pengawal keamanan, tapi juga penjaga masa depan generasi penerus bangsa.












