Jurnal1Jambi.com,- Jakarta, 17/7/2025 — Di tengah dunia yang semakin terkoneksi dan kompetitif, FERADI WPI mengambil langkah berani dengan meluncurkan Program Kursus Bahasa Inggris dan Mandarin Gratis bagi seluruh anggota yang telah memiliki KTA. Program ini tak hanya menjadi wujud keberpihakan pada pendidikan inklusif, tapi juga sebagai manuver strategis untuk menyiapkan anggotanya menembus batas bahasa, menembus batas dunia.

Diselenggarakan daring melalui Google Meet, kursus ini hadir setiap Selasa dan Minggu malam. Formatnya interaktif, materinya progresif, dan pengajarnya bukan kaleng-kaleng. Hadir dua sosok yang tak hanya menguasai bahasa, tapi juga memahami filosofi di baliknya: Rifa Asyah Ningrum, S.H., SS, dan Dodi, S.Fil. Nama yang menyiratkan bahwa ilmu tak sekadar disampaikan—tapi ditransfer dengan rasa, logika, dan visi ke depan.

Ketua Umum FERADI WPI, Adv. Donny Andretti, menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing bukan lagi sekadar kelebihan, tapi kebutuhan strategis. “Bahasa itu kunci. Ia membuka akses pada literatur global, peluang kerja internasional, bahkan memperluas makna dari profesi yang kita geluti hari ini. Wartawan, advokat, bahkan aktivis sosial—semua butuh keterampilan ini agar tidak hanya bicara lokal, tapi mampu berdialektika secara global,” tegasnya dalam pernyataan reflektif yang juga menyentil urgensi peningkatan kapasitas diri.

Dalam pernyataannya yang penuh semangat, Donny juga memuji dedikasi dua pengajar utama, yang menurutnya bukan hanya berbagi ilmu, tetapi sedang menyalakan lilin-lilin harapan. “Mereka bukan sekadar guru bahasa. Mereka adalah agen peradaban. Saya tersentuh, karena mereka mengajar bukan karena dibayar, tapi karena peduli. Pendidikan gratis ini bukan promosi, tapi revolusi diam-diam,” ujarnya.

Program ini juga menyasar jurnalis dari berbagai media online yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia (KAWAN JARI), serta organisasi afiliasi lainnya seperti FERADI MEDIATORE dan PMBI. Donny menyebut peran wartawan sangat vital, dan penguasaan bahasa asing akan memperkuat kapasitas mereka dalam membaca dan menulis wacana internasional—mengangkat isu lokal dengan sudut pandang dunia.

Sementara itu, Rifa Asyah Ningrum menjelaskan bahwa metode pengajaran akan bertahap, komunikatif, dan inklusif. “Kursus ini dirancang agar siapa pun bisa ikut. Tak harus punya latar belakang bahasa. Yang penting ada niat belajar. Kami ingin bangun kepercayaan diri dan kesiapan peserta menghadapi dunia kerja yang makin tanpa sekat,” ujarnya. Sebuah narasi yang menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal kecakapan, tapi juga pemberdayaan psikologis.

FERADI WPI, organisasi hukum yang dikenal aktif dalam bidang pendidikan dan advokasi publik, kini mempertegas identitasnya sebagai motor penggerak literasi modern. Di saat banyak orang bicara soal akses, mereka bergerak memberi akses. Di saat banyak bicara solusi, mereka justru menjadi solusi itu sendiri. Karena di balik kelas daring ini, ada ide besar: membekali rakyat dengan alat berpikir lintas batas, tanpa memungut sepeser pun. Dan itu, adalah bentuk pengabdian paling mulia.

share this :