Jurnal1Jambi.com,- Jambi, 16/7/2025 – Ketahanan pangan bukan sekadar jargon dalam rapat-rapat formal. Ia adalah kebutuhan nyata yang tak bisa ditunda. Demi menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi menggelar Rapat Koordinasi Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) dan Brigade Pangan di Aula Bapeltan Provinsi Jambi. Tujuannya jelas: mempercepat tanam, memperkuat produksi.

Rapat ini dipimpin langsung oleh Ketua Koordinator Pelaksana, Brigjen TNI Arif Hendro Djatmiko HS., S.H., S.M., yang menegaskan pentingnya kolaborasi konkret di lapangan. Dihadiri unsur TNI, dinas pertanian, akademisi, serta perwakilan daerah, forum ini tak hanya simbol koordinasi, tapi ruang untuk merumuskan langkah operasional yang tepat sasaran. Kodim 0420/Sarko turut hadir lewat Pasiter Lettu Arh Andri Yunerlim, mewakili komitmen TNI dalam mendampingi percepatan tanam dari tingkat tapak.

“Target luas tambah tanam bukan soal angka statistik. Ia menyangkut keberlanjutan pangan nasional,” tegas Brigjen Arif. Menurutnya, percepatan LTT harus ditopang sinergi menyeluruh—antara pemerintah daerah, aparat teritorial, hingga kelompok tani di lapangan. Karena produksi tak lahir dari rencana, tapi dari eksekusi bersama.

Dalam rapat ini, Kepala Dinas TPHP Provinsi Jambi, Ir. Rumusdar, turut memberi arah teknis. Fokus diarahkan pada optimalisasi pompanisasi dan sistem irigasi perpipaan di sawah tadah hujan, serta pemanfaatan maksimal dana APBN. Beberapa strategi juga diperkuat: pengawalan tanam sejak Mei 2025, pendampingan pada lahan cetak baru, serta percepatan realisasi tanam di lokasi optimalisasi lahan (Opla).

Rapat ini dihadiri oleh berbagai unsur strategis: para Dandim se-jajaran Korem 042/Gapu, BRPM Provinsi Jambi, Direktur Polbangtan Bogor, Kepala UPTD pertanian, hingga tokoh penggerak program swasembada pangan. Forum ini juga membuka sesi diskusi interaktif—bukan hanya mendengar laporan, tapi membedah kendala dan mengusulkan solusi lapangan secara partisipatif.

Di tengah dinamika iklim dan tekanan global, ketahanan pangan tak boleh jadi agenda musiman. Ia butuh kesinambungan, komitmen kolektif, dan keberanian untuk bergerak dari meja rapat ke petak sawah. Dari Jambi, komitmen itu mulai ditegaskan: Swasembada bukan lagi mimpi, melainkan misi yang dijalankan—dengan gotong royong, strategi teknis, dan langkah yang terukur.

share this :