Jurnal1Jambi.com,- Sungaiulak, 3/07/2025 — Di tengah gemuruh wacana tentang keamanan dan stabilitas, ada satu praktik sederhana namun berdampak besar yang terus dilakukan diam-diam oleh TNI: komunikasi sosial. Sertu Iponrianto, Babinsa Desa Sungaiulak, bukan sekadar prajurit berbaju loreng ia menjadi pengikat urat nadi antara pemerintah desa dan denyut hati masyarakat. Dalam senyap, ia rajin bersilaturahmi, menjalin keakraban bukan hanya dengan perangkat desa, tapi juga dengan tokoh adat, agama, hingga pemuda setempat.
Komsos bukan ajang basa-basi. Ini ruang negosiasi sosial di mana negara hadir tanpa menara gading. Di tangan Babinsa, dialog bukan alat kontrol, tapi jembatan kepercayaan. Sertu Iponrianto tahu betul: desa tak bisa dijaga hanya dengan perintah dari atas, tapi dengan telinga yang mendengar dari dekat. Ia menempuh jalan yang tak banyak dilihat media: duduk bersila bersama warga, menyerap keluh, mengurai isu, dan menguatkan solidaritas.
Sinergi yang ia bangun bukan hasil surat tugas, tapi buah dari kedekatan emosional. Inilah TNI yang tidak hanya menjaga perbatasan fisik, tapi juga ruang sosial masyarakat. Ketika Babinsa menjadi mitra kerja pemerintah desa, maka keamanan tak lagi berwujud barikade, tapi rasa aman yang tumbuh dari rasa memiliki bahwa negara hadir, mengenal, dan dikenal.
Kegiatan rutin ini seolah sederhana, namun di baliknya tersimpan fondasi penting: mencegah konflik sebelum menjadi bara, mendeteksi gesekan sebelum menjadi ledakan. Dalam dunia yang kian rawan disinformasi dan polarisasi, Babinsa yang mau mendengar langsung dari sumbernya adalah aset strategis. Karena menjaga desa hari ini, adalah menjaga republik besok pagi.












