Jurnal1Jambi.com,- Bandung, 25/06/2025 — Di tengah inflasi yang dijelaskan panjang lebar oleh ekonom di televisi, dan kemiskinan yang dipetakan oleh birokrat lewat presentasi PowerPoint, satu hal tetap berlaku: rakyat tak hidup dari wacana. Mereka hidup dari kerja. Maka, ketika Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes MP) Cibiru Wetan bergerak, ia bukan hanya membangun ekonomi desa—ia sedang memberi pelajaran pada negara.

Didirikan secara resmi pada 9 Mei 2025, Kopdes MP Cibiru Wetan bukan berdiri karena proyek, melainkan karena kebutuhan. Badan hukum, NIB, NPWP—semuanya disiapkan bukan untuk pencitraan, tapi agar koperasi ini berdaya saing di tengah sistem ekonomi yang kerap mengabaikan desa. “Legalitas bukan tujuan, tapi fondasi. Yang utama: bagaimana kami bisa menjawab kebutuhan warga,” tegas H. Dadang Husen, Ketua Kopdes.

Bukan mimpi tentang ekonomi kerakyatan, tetapi kerja riil yang menyentuh perut rakyat: gerai sembako, apotek desa, unit simpan pinjam, klinik, cold storage, agen LPG, kios tani. Ini bukan koperasi sebagai slogan kampanye, tapi sebagai instrumen distribusi kesejahteraan.

Per 23 Juni 2025, koperasi ini telah memiliki 232 anggota aktif. Angka yang tidak besar jika dinilai oleh pusat, tapi menjadi bukti bahwa koperasi ini tumbuh bukan karena disubsidi, melainkan karena dipercaya. “Koperasi ini bukan hanya tempat menyimpan uang, tapi tempat menyimpan harapan,” tambah Dadang.

Kepala Desa Cibiru Wetan, Hadian Supriatna, menyadari bahwa progres bukan hanya soal laporan tahunan. “Kami tidak ingin Kopdes hanya menjadi struktur tanpa kultur. Yang kami bangun adalah semangat kolektif, bukan hanya unit usaha. Kalau bisa menjadi percontohan, biarlah karena kerja, bukan karena koneksi,” tegasnya.

Di Jakarta, pejabat bicara soal membasmi rentenir. Tapi di desa, rakyat harus menghadapi mereka setiap hari, tanpa perlindungan. Maka koperasi seperti ini menjadi perisai—melindungi warga dari jerat pinjaman tanpa belas kasih. Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi menyebut Kopdes bisa lahir dari tiga sumber: koperasi baru, koperasi sehat, dan koperasi mati yang dibangkitkan. Tapi semua akan sia-sia jika rakyat tak dilibatkan. Karena koperasi bukan dibangun dengan piagam, tapi dengan kepercayaan.

Cibiru Wetan sedang menata itu—bukan dari meja rapat, tapi dari tanah yang diinjak rakyat setiap hari. Dan dari sanalah ekonomi kerakyatan seharusnya dimulai: bukan dari teks, tapi dari tindakan.

share this :