Jurnal1Jambi.Com,- Jambi, 21/06/2025 — Sebuah video viral di media sosial memunculkan polemik baru dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur prestasi olahraga di SMAN 3 Jambi. Dalam video tersebut, tampak calon siswa jalur prestasi diminta melakukan pertarungan fisik di hadapan tim faktual panitia sekolah. Peristiwa ini menuai sorotan publik, mempertanyakan etika dan sistem rekrutmen siswa berbasis prestasi.
Saat dimintai keterangan, Christop selaku Humas SMAN 3 Jambi menyatakan tidak mengetahui secara detail perihal insiden tersebut. Ia justru mengarahkan agar pertanyaan dilayangkan langsung kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. “Kami hanya menjalankan tugas. Seharusnya Dinas Pendidikan yang menyosialisasikan mekanisme ini kepada cabang olahraga dan Dispora,” ujar Christop kepada awak media, Jumat (21/6).
Pernyataan tersebut justru menambah kebingungan publik. Ketidaktahuan pihak sekolah terhadap proses yang mereka jalankan menunjukkan adanya kekosongan koordinasi dan lemahnya kontrol institusional. Dalam logika sederhana: bagaimana mungkin sekolah menjadi pelaksana tanpa memahami prosedur yang dijalankan?

Christop menambahkan bahwa selama ini tidak ada keterlibatan atau kepedulian dari pihak cabang olahraga dalam proses seleksi siswa jalur prestasi. “Cabor tidak pernah ambil bagian, kami hanya disuruh menyosialisasikan ke lurah dan RT,” imbuhnya.
Respons ini menyiratkan adanya pola komunikasi yang tidak tuntas antar pemangku kebijakan. Di satu sisi sekolah mengklaim hanya pelaksana, di sisi lain dinas dan Cabor disebut lepas tangan. Maka publik patut bertanya: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab memastikan bahwa siswa berprestasi tidak diperlakukan seperti gladiator?
Kasus ini menegaskan satu hal: ketika sistem pendidikan dikendalikan oleh prosedur tanpa substansi, maka prestasi justru menjadi objek kontestasi, bukan apresiasi. Alih-alih mengangkat martabat atlet muda, praktik semacam ini justru mempermalukan nalar kita semua.











