Jurnal1Jambi.com,- SAROLANGUN – Musim kemarau datang bukan hanya dengan udara kering, tapi juga risiko yang membara. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) adalah ancaman yang tak boleh disepelekan. Di Desa Teluk Rendah, Kecamatan Cermin Nan Gedang, Kabupaten Sarolangun, Babinsa Koramil 420-02/Ma Limun, Serda Andi Irawan, memilih tidak diam. Ia turun ke jalan desa, menyapa warga, membawa pesan penting: cegah api sebelum api menghabisi kita. (30/07/2025)

Langkah ini sederhana, tapi sarat makna. Serda Andi tidak hanya berbicara soal bahaya Karhutla, ia juga mengingatkan sanksi hukum bagi mereka yang masih membuka lahan dengan cara membakar. Pendekatan ini menegaskan bahwa pencegahan bukan semata urusan aturan, tetapi tentang tanggung jawab kolektif. Karena setiap percikan api bukan hanya merusak tanah, tapi juga merampas masa depan anak-anak yang akan hidup di atasnya.

Tak berhenti di imbauan, Babinsa juga mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap alam. Pesannya jelas: menjaga hutan bukan romantisme, tapi kebutuhan. Alam bukan musuh yang harus ditaklukkan, melainkan mitra yang harus dirawat. Kesadaran ini penting, karena Karhutla sering lahir bukan dari bencana alam, tetapi dari pilihan manusia pilihan yang salah. Mengubah pola pikir adalah tantangan yang jauh lebih berat daripada memadamkan api, tetapi di sanalah kemenangan yang sesungguhnya.

Dalam aksinya, Serda Andi juga memanfaatkan media sederhana seperti spanduk berisi pesan larangan pembakaran lahan. Upaya ini tampak kecil, namun komunikasi yang konsisten adalah kunci. Pertanyaannya: apakah langkah ini cukup menghadang ancaman Karhutla? Jawabannya, tidak. Selama solusi alternatif untuk pembukaan lahan tidak tersedia, larangan hanya akan menjadi kata-kata. Edukasi harus diiringi inovasi misalnya akses teknologi ramah lingkungan atau bantuan pengelolaan lahan agar warga tidak terjebak dalam pilihan yang sulit.

Karhutla bukan sekadar cerita tentang asap dan lahan yang terbakar. Ia adalah potret hubungan kita dengan alam apakah kita memilih merawat atau mengabaikan. Upaya Babinsa ini adalah cermin: bahwa kesadaran bisa lahir dari hal sederhana, dari obrolan di pinggir jalan hingga spanduk peringatan. Namun, agar Indonesia tak terus terperangkap dalam siklus “api dan asap”, dibutuhkan lebih dari sekadar ajakan: dibutuhkan keberpihakan, keberanian, dan kebijakan yang menyalakan harapan, bukan kebakaran.

share this :