Jurnal1Jambi.com,- SAROLANGUN – Kemarau datang seperti ujian tahunan. Matahari menyengat, air menipis, dan petani harus bertahan dengan sumber daya yang semakin terbatas. Namun, di Desa Tinting, Kecamatan Sarolangun, ada kisah yang memberi warna: petani memanfaatkan lahan untuk menanam kangkung, sayuran sederhana yang justru menjadi tumpuan harapan di tengah musim kering. (30/07/2025)
Di lahan seluas 0,4 hektare, petani menggarap tanah dengan tekun. Kangkung, yang dikenal mudah tumbuh, menjadi pilihan rasional sekaligus strategis. Hanya saja, musim kemarau memaksa mereka bekerja lebih keras, menyiram setiap hari agar tanaman tetap hijau. Di titik ini, muncul peran yang jarang disorot: Babinsa Koramil 04/Sarolangun, Kopda Bambang Gunawan, ikut turun tangan membantu merawat dan mengecek tanaman. Sebuah pemandangan yang melampaui batas tugas militer, menegaskan bahwa pertahanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal pangan.
Dari lahan itu, potensi hasilnya tidak kecil: puluhan hingga ratusan ikat kangkung, cukup untuk menambah pendapatan dan memenuhi kebutuhan pasar yang selalu haus sayuran segar. Ini bukan sekadar soal ekonomi mikro; ini soal ketahanan pangan, soal bagaimana masyarakat memanfaatkan peluang meski di tengah keterbatasan. Di balik kisah ini, ada pelajaran yang sering luput: bahwa inovasi kadang sesederhana keberanian untuk menanam, bukan menunggu bantuan datang.

Kopda Bambang menyebut menanam kangkung sebagai pilihan yang menguntungkan. Alasannya jelas: modal ringan, masa tanam singkat, dan permintaan pasar stabil. Tetapi, apakah ini cukup untuk menjawab tantangan petani secara menyeluruh? Tentu tidak. Pertanian kecil tetap berhadapan dengan masalah klasik: akses air, harga pupuk, dan daya tawar yang lemah di hadapan tengkulak. Di sinilah, peran negara seharusnya bukan sekadar simbolik, tetapi sistemik. Membantu petani bukan proyek musiman, melainkan kebijakan yang berkelanjutan.
Kita bisa memuji inisiatif ini, namun kritik tetap diperlukan. Karena pertanyaan mendasarnya: mengapa petani masih harus berjibaku sendiri, mengandalkan solidaritas Babinsa, bukan sistem dukungan yang terstruktur? Upaya seperti ini, jika tidak ditopang kebijakan, hanya akan jadi headline sesaat. Padahal, ketahanan pangan adalah pilar kedaulatan. Negara harus hadir tidak hanya dalam bentuk patroli dan bantuan insidental, tetapi juga dalam bentuk regulasi, infrastruktur, dan akses pasar yang adil.
Kangkung mungkin terlihat sederhana, tetapi ia menyimpan pesan mendalam: bahwa harapan bisa tumbuh di lahan kering jika ada kerja sama, keberanian, dan keberpihakan. Musim kemarau ini seharusnya menjadi alarm: bahwa strategi pangan bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata. Dan aksi itu, seperti kangkung di Desa Tinting, harus dimulai dari akar rumput dengan dukungan yang tidak hanya datang dari satu Kopda, tetapi dari sistem yang berpihak pada petani, rakyat, dan masa depan.












