Kabupaten Bandung — Aroma kontestasi mulai tercium meski panggung belum dibuka. Masa jabatan Ketua DPC APDESI Kabupaten Bandung, Dedi Bram, segera berakhir tahun depan. Tapi gaung suksesi sudah menggema. Salah satu nama yang kini mencuat: Agus Rusman, Kepala Desa Pulosari, Kecamatan Pengalengan.

Dan kini, dukungan mulai mengalir. Tidak sembarang dukungan. Salah satunya datang dari Kades Cibiru Wetan, Hadian Supriatna, yang terang-terangan menilai Agus Rusman sebagai figur potensial dan layak diperhitungkan.

“Dia punya jaringan luas, basis massa akar rumput, dan yang paling penting—niat kuat untuk memimpin pasca Bram. Itu modal besar,” tegas Hadian, tanpa basa-basi.

Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi politik. Ia sinyal kuat bahwa dinamika internal di tubuh APDESI mulai bergerak. Bahwa suksesi bukan hanya soal jabatan, tapi arah dan visi organisasi yang ingin ditawarkan ke depan.

Agus Rusman bukan nama baru di kalangan kepala desa. Ia dikenal sebagai pemimpin yang aktif, komunikatif, dan punya insting organisasi yang tajam. Tak heran bila ia mulai mendapatkan simpati dari para Kades di wilayah timur Kabupaten Bandung—wilayah yang selama ini punya pengaruh cukup signifikan dalam peta kekuatan APDESI.

Ketua APDESI saat ini, Dedi Bram, menanggapi perkembangan itu dengan sikap demokratis.

“Pemilihan kemungkinan April tahun depan. Siapa pun boleh maju, ini organisasi terbuka. Yang penting niatnya membangun,” ujarnya diplomatis.

Pernyataan Dedi seolah memberi lampu hijau. Bahwa transisi kepemimpinan ini harus menjadi ajang kompetisi sehat. Bukan sekadar rebutan kursi, tapi adu gagasan untuk memajukan para kepala desa dalam menghadapi tantangan yang makin kompleks: dari digitalisasi layanan desa, ketahanan pangan, hingga manajemen anggaran berbasis partisipasi publik.

Satu hal yang pasti: siapa pun yang akan bertarung, rakyat di desa-desa menanti bukti. Bukan janji.
Karena di era seperti sekarang, kepala desa bukan lagi sekadar pelayan administratif—tapi garda terdepan pembangunan lokal yang nyata.

Dan APDESI, harus menjadi rumah yang memperkuat peran itu. Bukan mengebiri. Bukan menjadi menara gading. Tapi wadah perjuangan. Bagi desa. Bagi masa depan.

share this :