Jurnal1Jambi.com,- Sarolangun, 28/7/2025 – Di tengah hamparan hijau Desa Sungai Baung, satu sosok berseragam loreng tampak tak canggung memegang cangkul. Ia bukan petani, tapi Babinsa Koramil 04/Sarolangun Kodim 0420/Sarko, Kopda Musdar, yang hari ini memilih berada di lumpur, bukan di barak. Alasannya sederhana: menjaga ketahanan pangan dari akar rumput, bukan dari balik meja.

Kegiatan yang dilakukan Kopda Musdar ini lebih dari sekadar rutinitas. Dengan penuh semangat, ia ikut merawat tanaman kacang panjang bersama warga. “Kacang panjang bukan hanya sayur di meja makan. Ia punya peran penting dalam pola tanam petani. Tanaman ini mampu memulihkan kandungan nitrogen di tanah, dan punya nilai ekonomi tinggi,” ujarnya sambil menyeka keringat di dahi.

Kenapa harus turun langsung? Jawaban Kopda Musdar lugas: kehadiran TNI di sawah adalah bentuk nyata kemanunggalan dengan rakyat. Ia tahu, kata-kata tak cukup untuk memotivasi petani. Tindakan adalah bahasa yang lebih nyaring. “Kami ingin petani semangat. Kalau mereka maju, desa kuat. Kalau desa kuat, negara pun kokoh,” tegasnya.

Bagi Musdar, mendukung pertanian bukan hanya tugas tambahan, tapi bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional. Saat harga pangan jadi isu politik, sawah adalah benteng pertahanan. “Keberhasilan pertanian rakyat adalah keberhasilan kita bersama,” pungkasnya. Pernyataan ini bukan sekadar kalimat, tapi pesan: jangan remehkan peran petani dalam ketahanan negara.

Warga pun menyambut langkah ini dengan antusias. Kehadiran Babinsa memberi energi baru di tengah tantangan klasik petani: cuaca tak menentu, modal terbatas, harga fluktuatif. “Kalau TNI saja mau turun sawah, masa kami malas?” celetuk seorang petani sambil tertawa, tapi menyimpan makna serius: dukungan nyata melahirkan harapan nyata.

Dari Desa Sungai Baung, sebuah pelajaran mengalir: ketahanan pangan tidak lahir dari rapat-rapat panjang, tapi dari gotong royong di lumpur, dari kemauan untuk kotor demi masa depan yang lebih bersih.

share this :