Jurnal1Jambi.com,- Jambi, 25/7/2025 – Jalan raya, ruang publik yang seharusnya mencerminkan disiplin, justru menampilkan potret kelalaian. Dalam 12 hari pelaksanaan Operasi Patuh Siginjai 2025, Polda Jambi mencatat 400 pelanggaran. Angka ini bukan sekadar data, tapi tamparan: seberapa jauh kita benar-benar peduli pada keselamatan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Razia ini dimulai sejak 14 Juli dan akan berakhir 27 Juli mendatang. Jumat pagi, giliran Jalan Jenderal Basuki Rahmat, Kecamatan Kota Baru, jadi saksi operasi yang digelar pukul 10.00–11.30 WIB. Di balik terik matahari, petugas memberhentikan kendaraan satu per satu, menguji kesadaran pengendara tentang aturan yang sering mereka abaikan. Pertanyaan yang menggantung: mengapa patuh pada aturan masih terasa seperti beban, bukan kewajiban?

“Operasi ini bukan untuk menakuti. Ini tentang keselamatan bersama,” ujar AKP Maskat Maulana, S.H., M.H., Kanit Pelanggaran Subdit Gakkum Ditlantas Polda Jambi. Ucapannya tegas, sederhana, tapi sarat makna. Karena di balik setiap pelanggaran, ada potensi kecelakaan. Di balik setiap abai, ada ancaman nyawa. Tertib bukan sekadar punya SIM atau STNK, tapi soal menghormati hak hidup orang lain di jalan yang sama.

Lebih dari itu, ada dimensi keamanan yang tak kalah penting. “Kami memastikan semua kendaraan memiliki dokumen sah untuk mencegah tindak kriminal seperti curanmor dan kejahatan kekerasan,” tambah Mashat. Artinya, operasi ini bukan hanya soal menilang, tapi juga membentengi masyarakat dari kejahatan yang kerap berawal dari kelalaian administratif.

Namun, faktanya tak bisa dibantah: banyak kendaraan yang terpaksa ditahan karena tak punya kelengkapan dokumen. Alasannya klise lupa membawa, hilang, bahkan sengaja tak mengurus. Kita lupa, hukum dibuat bukan untuk memberatkan, tapi melindungi. Dan perlindungan tak akan pernah hadir jika kepatuhan hanya dianggap formalitas.

Operasi ini akan berakhir dua hari lagi. Setelahnya, perhatian polisi akan bergeser ke Presisi Merdeka Run. Tapi pertanyaannya: apakah kesadaran kita juga akan bergeser kembali lalai, kembali mengabaikan aturan? Karena sekeras apa pun razia, ia tak akan pernah cukup jika kita masih berpikir bahwa keselamatan di jalan adalah urusan polisi, bukan tanggung jawab bersama. Padahal di jalan, satu kelalaian bisa merenggut nyawa dan nyawa, tak pernah ada gantinya.

share this :